KABUPATEN, JP Radar Kediri – Kasus ledakan yang diduga berasal dari bubuk petasan di Dusun Plumpungrejo, Desa Karangtengah, Kecamatan Kandangan, berbuntut.
Polisi mengamankan seorang remaja yang diperkirakan sebagai pemilik bubuk mercon tersebut. Aparat juga masih mencari satu remaja lain yang diduga terkait dengan peristiwa ini.
Selain itu, aparat telah memanggil seorang warga bernama Dahlan. Pria ini dimintai keterangan terkait keberadaan satu remaja yang masih dicari polisi.
Menariknya, ada fakta bahwa bubuk petasan tersebut dibeli secara daring dengan model pembayaran cash on delivery (COD). Tercatat sebagai pemesannya adalah dua remaja yang masih berusia 17-an tahun.
"Ada COD-an itu, kami telusuri sampai ke wilayah Badas. Dan, kami mengamankan dua orang yang diduga sebagai pembeli bubuk tersebut," beber Kapolsek Kandangan Iptu Winarto.
Berdasarkan informasi yang digali Jawa Pos Radar Kediri, dua orang yang diamankan itu salah satunya adalah Dahlan. Kemudian, remaja yang diamankan informasinya berasal dari Desa Pulurejo, Kecamatan Badas.
Iptu Winarto menegaskan untuk sementara ini polisi menduga ledakan berasal dari bubuk mercon. Indikasinya adalah, ada paket di depan rumah tempat ledakan itu terjadi.
Keterangan produk pada kemasan paket itu adalah pupuk ampuh booster kelengkeng 100% murni. Beratnya 3.300 gram. Keterangan label itu diperkirakan sebagai upaya kamuflase.
Polisi pun menelusuri asal-usul paket tersebut. Hingga akhirnya mengarah pada dua remaja sebagai pemesan.
Bagaimana dengan pemilik rumah tempat ledakan itu terjadi? Menurutnya, sejauh ini pemilik rumah yang bernama Yasin mengaku tak tahu-menahu dengan ledakan tersebut. Termasuk paket bubuk petasan yang ada di depan rumahnya.
Polisi pun tidak bisa menggali informasi lebih dalam dari pemilik rumah tersebut. Sebab, kondisi mental Yasin juga bermasalah. Pria itu adalah pengidap gangguan jiwa. Sehingga keterangannya kerap berubah-ubah.
“Mohon maaf untuk pemiliki rumah ini agak ‘empat empat’. Orangnya tidak ‘penuh’ (terganggu jiwanya, Red) sehingga tidak kami mintai keterangan," dalihnya.
Insiden ledakannya sendiri berlangsung Minggu malam (15/3) sekitar pukul 23.00. Lokasinya di dekat rumah milik warga bernama Yasin, 60.
Akibat ledakan itu, Sebagian rumah Yasin rusak berat. Salah satu bagian rumah dindingnya ambrol. Genting pun berserakan di lantai.
Untungnya tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Yasin tidur di kamar yang tidak terkena ledakan. Sehingga selamat dari ledakan.
Dugaan awal, ledakan terjadi akibat bubuk petasan yang disimpan di dalam tanah. Lokasinya di belakang rumah Yasin, berjarak sekitar 20-an meter.
Setelah terjadi ledakan pertama, terduga pelaku berusaha memindahkan bubuk mercon yang masih ada. Nahasnya, bubuk mercon itu juga meledak.
Kali ini terjadi di dekat kamar mandi milik Yasin yang berada di depan rumah. Ledakan kedua itu berselang kurang lebih 20 menit dari yang pertama.
Pagi kemarin polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Melibatkan korps Brimob Polda Jawa Timur. Tim Gegana tiba di lokasi sekitar pukul 09.00.
"Diduga masih ada barang bukti atau bubuk yang masih disimpan oleh pelaku," terang Winarto terkait keterlibatan Tim Gegana dalam olah TKP.
Informasi yang dihimpun, ada dua gundukan tanah yang berlokasi di belakang rumah Yasin. Gundukan tanah yang satu merupakan lokasi ledakan pertama. Tempat itu sudah diberi garis polisi.
Sementara itu, gundukan kedua berada lebih jauh. Terlihat seperti kuburan. Dalam olah TKP, gundukan tersebut masih dibiarkan.
Pasalnya, perlu ada tim ahli untuk melakukan pembongkaran. Sementara, olah TKP dari Tim Gegana berakhir sekitar pukul 10.30 WIB.
"Di belakang itu memang ada gundukan tanah yang diperkirakan bubuk mercon yang ditanam di sana. Tetapi kami belum bisa menggalinya karena juga butuh ahlinya untuk bisa melihat," tandasnya sembari menyebut pengamanannya sementara adalah dengan memberi garis polisi.
Sementara itu, polisi berjanji akan mengusut tuntas kasus ledakan tersebut. Termasuk mengungkap asal-usul bahan peledak yang jadi penyebabnya.
“Untuk saat ini kami pastikan tidak ada korban dalam peristiwa tersebut. Hanya ada kerugian material,” terang Kapolres Kediri AKBP Bramasto Priaji, melalui Kasatreskrim Polres Kediri AKP Joshua Peter Krisnawan.
Menurut Joshua, proses penyelidikan melibatkan tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur.
Bersama unit identifikasi Satreskrim Polres Kediri, mereka akan melakukan olah TKP lanjutan untuk mendalami penyebab ledakan. Sekaligus mengumpulkan alat bukti secara ilmiah.
Penanganan mengedepankan metode scientific crime investigation atau penyelidikan berbasis pembuktian ilmiah. Karena itu diperlukan analisis forensik terhadap berbagai temuan di lokasi kejadian.
Polisi juga belum menetapkan tersangka. Penyidik masih melakukan pemeriksaan sejumlah saksi. Mereka juga menunggu hasil analisis forensik sebelum melakukan gelar perkara.
“Ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk menelusuri peredaran bahan peledak atau petasan siap pakai dan menindak secara hukum dengan profesional,” tegasnya. (em/sad/fud)
Editor : Andhika Attar Anindita