JP Radar Kediri - Kabar meninggalnya penyanyi Vidi Aldiano tak hanya menjadi pukulan bagi keluarga, namun juga bagi masyarakat tanah air. Pasalnya, tak hanya akhir di dunia tarik suara, Vidi Aldiano juga kerap menjadi host podcast di beberapa channel.
Kabar meninggalnya suami Sheila Dara itu dibenarkan oleh pihak keluarga lewat pesan singkat kepada awak media.
"Telah wafat anak saya: OXAVIA ALDIANO bin HARRY APRIANTO. Vidi wafat didampingi seluruh keluarga besar yang ikhlas akan kepergiannya menghadap Alloh SWT, 7 Maret jam 16.33. Selamat Jalan Menuju Cahaya Ilahi Nak," bunyi pesan tersebut.
Penyanyi yang berpulang di usia 35 tahun itu pertama kali didiagnosis kanker ginjal pada Desember 2019. Ia menjalani operasi kanker ginjal di Singapura hingga diketahui penyakit yang diidapnya cukup ganas.
Di tahun selanjutnya, ia sempat dinyatakan sehat. Namun saat pemeriksaan rutin pada 2021, kankernya ditemukan lagi.
Di tahun 2023, Vidi bahkan mengabarkan bahwa kankernya sudah mengalami metastasis atau menyebar ke bagian tubuh yang lain.
"Mungkin banyak yang belum tahu bahwa tahun lalu, titipan Tuhan berupa kanker ini sudah menyebar ke beberapa titik, sehingga mengharuskan gue punya appointment spa day tiap tiga minggu. Seiring waktu berjalan. I learn to make peace with my condition and be grateful for whatever God has given me throughout these years," ujar Vidi.
Vidi juga pernah mengunggah video di akun Instagram miliknya. Ia mengungkapkan kondisinya yang kembali menurun selepas Idul Fitri pada April 2025.
Sebelumnya, saat menjalani pemeriksaan pada Desember 2024, kondisi kesehatan Vidi sudah mulai membaik.
Namun, ternyata obat yang dikonsumsinya selama lima tahun terakhir sudah perlu diganti.
"Namun, April kemarin setelah Lebaran kita melakukan another scan untuk mengecek apakah obatnya yang sudah aku pakai 5 tahun itu masih berfungsi atau nggak," beber Vidi dalam postingan Instagram, Kamis (12/6/2025).
Namun ternyata hasilnya justru tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Bahkan kabar buruknya, saat itu, dokter mengungkapkan bahwa kanker di tubuhnya tumbuh dengan cepat.
Mengetahui itu, Vidi langsung mengganti obat yang sudah pernah dikonsumsinya di awal dia didiagnosis kanker di Singapura.
Dokter yang menanganinya di Singapura sudah menganjurkan Vidi untuk menggunakan obat tersebut. Tetapi, karena COVID-19 dan lockdown, Vidi harus menggunakan obat yang tersedia di Indonesia.
Melihat kondisinya itu, selama beberapa bulan terakhir Vidi harus bolak-balik Penang, Malaysia, untuk melakukan pengobatan.
"Dan karena memang saat ini obatnya, unfortunately, belum sampai di Indonesia. Jadi kita harus melakukan treatment-nya semua di Penang," kata Vidi.
Vidi mengungkapkan saat ini fokus utamanya adalah kesehatannya karena harus mengonsumsi obat baru.
Menurutnya, efek samping dari obat baru ini lebih keras dibandingkan yang sudah dialaminya lima tahun lalu.
Maka dari itu, kini Vidi sedang berusaha untuk menahan rasa sakit dan efek samping yang muncul dari obat baru selama beberapa bulan ini demi kesehatannya.
"Karena memang efek samping obat ini lebih keras jauh dibandingkan apa yang aku sudah alami 5 tahun terakhir. Jadi aku lagi dalam proses untuk enduring pain everyday, enduring every side effect yang baru muncul beberapa bulan ini," terang Vidi.
Ia menyebut bahwa biaya yang dihabiskan untuk berobat di Penang cenderung lebih murah dibandingkan dengan di Indonesia. Selain itu, pelayanan kesehatan juga dilakukan dengan cepat dan efektif.
Dilihat dari lama resmi Rumah Sakit Penang Malaysia, biaya berobat di sana berkisar dari ratusan ribu hingga jutaan, tergantung pada pelayanan.
Konsultasi dengan dokter spesialis dikenakan Rp270 ribu hingga Rp1 juta, sementara medical check up berkisar di angka Rp1,4 juta hingga Rp3,2 juta.
Pengobatan spesialis tentunya cukup bervariasi, misalnya biaya pengobatan kanker berkisar antara Rp7 juta hingga Rp120 juta. Sementara biaya rawat inap di sana sebesar Rp500 ribu hingga Rp1,3 juta tergantung jenis ruangan.
Editor : Shinta Nurma Ababil