JP Radar Kediri - Langit malam pada 3 Maret 2026 berubah mencolok. Gerhana bulan total membuat bulan perlahan kehilangan cahaya putih terangnya, lalu berubah menjadi merah pekat seperti kobaran api.
Fenomena yang sering disebut blood moon ini bukan sekadar peristiwa astronomi biasa. Peristiwa ini memicu rasa takjub sekaligus pertanyaan mendasar mengenai alasan di balik perubahan warna bulan menjadi kemerahan.
Banyak orang mengira warna merah itu berasal dari perubahan pada bulan. Padahal, yang sebenarnya terjadi justru melibatkan atmosfer bumi dan cara cahaya matahari berperilaku saat melewatinya.
Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat bagaimana posisi matahari, bumi, dan bulan sejajar sempurna, serta bagaimana atmosfer kita bertindak sebagai penyaring cahaya alami raksasa.
Baca Juga: Bukan 2025! Ini Fakta Gerhana Matahari Total Spektakuler 2 Agustus 2027
Apa Itu Gerhana Bulan Total?
Gerhana bulan total terjadi ketika bumi berada tepat di antara matahari dan bulan, sehingga cahaya matahari yang biasanya langsung memantul dari permukaan bulan tertutup oleh bayangan bumi. Pada gerhana bulan total, seluruh permukaan bulan berada dalam bayangan gelap bumi yang disebut umbra, yang membuatnya tidak lagi mendapatkan sinar matahari secara langsung.
Mengapa Bulan Bisa Tampak Merah?
Walaupun bumi sepenuhnya menghalangi sinar matahari, sebagian cahaya matahari masih bisa mencapai bulan karena dibelokkan atau direfraksi saat melewati atmosfer bumi. Lapisan udara ini bertindak seperti lensa yang menekuk sinar tersebut ke dalam bayangan bumi.
Cahaya putih matahari ternyata adalah campuran semua warna. Saat cahaya tersebut melewati atmosfer, gelombang dengan panjang lebih pendek (seperti biru dan ungu) tersebar ke segala arah dan hilang dari jalur langsung menuju bulan.
Sedangkan gelombang dengan panjang lebih panjang (seperti merah, jingga, dan kuning) lebih tahan terhadap hamburan dan lebih banyak sampai ke permukaan bulan.
Fenomena ini dikenal sebagai Rayleigh scattering, proses serupa yang membuat langit kita berwarna biru di siang hari dan menciptakan semburat merah saat matahari terbenam.
Atmosfer bumi menyaring cahaya dan hanya menyisakan warna-warna hangat seperti merah untuk menyentuh permukaan bulan. Saat warna tersebut memantul kembali ke bumi, bulan seolah 'berdarah', menciptakan fenomena ikonik yang kita kenal sebagai Blood Moon.
Baca Juga: Gerhana Matahari Cincin Datang Lagi, Indonesia Hanya Jadi Penonton Jauh
Faktor yang Mempengaruhi Intensitas Warna
Warna merah saat gerhana sangat bergantung pada kualitas udara di atmosfer kita. Keberadaan polusi, debu, dan uap air menjadi faktor penentu apakah bulan akan tampak berwarna jingga cerah atau merah bata yang gelap. Secara teknis, semakin banyak hamburan partikel di langit, maka intensitas warna merahnya akan semakin kuat.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita