JP Radar Kediri – Peningkatan kasus campak di Indonesia kembali menjadi sorotan serius di awal 2026 setelah angka suspek dan konfirmasi meningkat dibandingkan periode sebelumnya.
Dikutip dari laman resmi Kementrian Kesehatan Indonesia, disebutkan bahwa pada tahun 2026 hingga Minggu ke-7, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian (CFR 0,05%).
Dalam periode ini, ditemukan 21 KLB suspek dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium, tersebar di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi.
Suatu wilayah ditetapkan sebagai KLB Campak apabila ditemukan minimal 2 kasus konfirmasi campak secara laboratorium dan adanya hubungan secara epidemiologi.
Peningkatan kasus campak juga dilaporkan di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Barat, menimbulkan risiko penularan lintas negara.
Indonesia juga menerima notifikasi terkait kasus campak pada warga negara asing asal Australia yang sempat tinggal sementara di Indonesia. Namun, saat ini seluruh kasus tersebut telah dinyatakan sembuh.
Campak Menular dan Berisiko Komplikasi
Campak dikenal memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ke puluhan orang lain di lingkungan dekat. Bahkan campak dapat menimbulkan risiko komplikasi.
“Campak itu bukanlah penyakit ringan-ringan saja. Komplikasi bisa berat dan juga daya tahan tubuh bisa sangat menurun sehingga membuka masuknya terjadinya penyakit lain,” ujar Prof Dr.dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K) selaku Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Para ahli menekankan bahwa meski campak sering dianggap “penyakit anak biasa”, bahayanya tidak bisa diabaikan.
Terutama pada anak-anak yang belum lengkap imunisasi, malnutrisi, atau memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, risiko komplikasi bisa meningkat tajam.
Imunisasi MR Jadi Langkah Pencegahan Paling Efektif
Kemenkes menegaskan bahwa imunisasi campak-rubella (MR) merupakan strategi paling efektif mencegah penularan campak dan rubella.
Dr. Andi Saguni menekankan bahwa pencegahan campak sangat bergantung pada imunisasi yang lengkap dan merata.
Ia menjelaskan bahwa ketika cakupan imunisasi tinggi dan seluruh wilayah tercakup tanpa ada yang tertinggal, rantai penularan virus campak dapat dihentikan, sehingga risiko wabah dapat diminimalkan.
Imunisasi MR (Measles‑Rubella) merupakan vaksin kombinasi yang melindungi terhadap dua penyakit, yaitu campak dan rubella.
Vaksin ini mampu mencegah penyebaran penyakit yang sangat menular dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, ensefalitis, bahkan kematian pada campak serta cacat lahir pada rubella jika ibu hamil terinfeksi.
Kemenkes terus memperkuat program imunisasi, termasuk imunisasi rutin, imunisasi kejar, serta imunisasi tambahan di wilayah-wilayah dengan cakupan rendah.
Menurut Dr. Mulya Rahma Karyanti, Konsultan Penyakit Infeksi dan Tropik Anak di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, penting untuk memantau data imunisasi hingga tingkat desa atau komunitas terkecil.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil