JP Radar Kediri - Situasi dunia kembali menjadi sorotan setelah konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya Israel dilaporkan meningkat. Hal itu ditunjukkan dengan serangan udara besar-besaran ke wilayah ibu kota Teheran, Iran pada Sabtu (28/2).
Serangan tersebut dikabarkan menyasar berbagai titik penting yang dianggap strategis di wilayah Iran. Di tengah situasi yang memanas itu, muncul kabar mengenai meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Pemerintah Iran secara resmi menyampaikan kepada publik bahwa pemimpin tertinggi mereka, Ali Khamenei, telah wafat setelah terjadinya serangan udara besar yang disebut dilakukan oleh militer Amerika Serikat bersama Israel pada Sabtu (28/2).
Pernyataan tersebut menjadi konfirmasi terbuka dari otoritas setempat terkait kabar yang sebelumnya beredar luas mengenai kondisi sang pemimpin usai operasi militer tersebut.
"Pemimpin Tertinggi Iran telah mencapai syahid," lapor IRIB sebagaimana dikutip dari Jawapos, Senin (2/3). Tak hanya Khamenei, anak, menantu, dan cucunya dilaporkan turut menjadi korban serangan AS-Israel.
Profil Ayatollah Ali Khamenei
Ali Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, sebuah kota suci di bagian timur Iran. Ia berasal dari keluarga ulama yang cukup disegani.
Ayahnya dikenal sebagai tokoh agama dari etnis Azerbaijan yang memiliki pengaruh di lingkungan masyarakat. Sejak masih sangat kecil, sekitar usia empat tahun, Khamenei sudah mulai belajar Al-Qur’an.
Pendidikan agamanya kemudian berlanjut ke pusat-pusat studi Islam terkemuka seperti Najaf dan Qom. Di luar kegiatan keagamaannya, ia juga dikenal menyukai puisi dan karya sastra.
Memasuki awal 1960-an, Khamenei bergabung dalam gerakan yang dipimpin Ruhollah Khomeini untuk menentang pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi.
Aktivitasnya membuat ia beberapa kali ditangkap oleh SAVAK, badan intelijen pada masa Shah, karena dianggap menyebarkan gagasan anti-pemerintah dan mengorganisasi aksi protes. Ia juga sempat menjalani masa pengasingan.
Ketika gelombang demonstrasi besar terjadi pada 1978–1979 yang akhirnya melemahkan kekuasaan monarki, para tahanan politik dan tokoh yang sebelumnya diasingkan kembali muncul di ruang publik.
Dalam periode itu, Khamenei kembali aktif di Mashhad dan kota-kota lainnya untuk membantu menggerakkan dukungan terhadap agenda revolusi yang digagas Khomeini.
Jejak Karir dan Perannya Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Sesudah Revolusi Islam Iran 1979 berhasil mengubah arah pemerintahan negara, Ali Khamenei ikut terlibat dalam struktur kekuasaan baru dengan menjadi bagian dari Dewan Revolusioner.
Karier politiknya berkembang cukup pesat. Ia pernah dipercaya menduduki posisi wakil menteri pertahanan, memimpin salat Jumat di Teheran, hingga terpilih sebagai anggota parlemen.
Pada 1981, situasi politik Iran kembali terguncang setelah Presiden Mohammad Ali Rajai tewas akibat serangan bom. Dalam kondisi tersebut, Khamenei maju dan kemudian terpilih sebagai presiden. Ia menjabat selama dua periode berturut-turut sampai 1989.
Di tahun yang sama saat awal masa kepemimpinannya, ia menjadi target percobaan pembunuhan ketika sebuah bom yang disembunyikan dalam alat perekam meledak ketika dirinya sedang menyampaikan ceramah di masjid. Insiden itu membuat lengan kanannya mengalami cedera berat dan tidak lagi berfungsi normal.
Ketika Ruhollah Khomeini wafat pada Juni 1989, Majelis Pakar Iran mengambil keputusan menunjuk Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi.
Perubahan konstitusi kemudian memperkuat kedudukannya sebagai otoritas tertinggi dalam sistem politik Iran.
Selama berada di posisi tersebut, arah kebijakan luar negeri Iran lebih menekankan pada sikap berseberangan dengan pengaruh Amerika Serikat, mempererat kerja sama dengan sekutu regional, serta menjaga kekuatan pertahanan sebagai strategi penangkal ancaman.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil