JP RADAR KEDIRI – Belakangan ini, foto-foto menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang beredar selama bulan Ramadhan ramai diperbincangkan di media sosial.
Beberapa pihak mengeluhkan porsi yang dianggap minim, sementara yang lain menyerap kesesuaian menu dengan standar gizi yang dijanjikan.
Menangapi dinamika tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan penjelasan menyeluruh mengenai standar, anggaran, hingga langkah evaluasi yang diambil.
Menu Standar: Bukan Sekadar Teknis, Tapi Selera Lokal
BGN menekankan bahwa keberhasilan program MBG sangat bergantung pada penerimaan anak terhadap makanan. Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat BGN, Khairul Hidayati (Hida), menjelaskan bahwa menu MBG kini didorong berdasarkan selera lokal.
“Anak akan lebih patuh pada pola makan bergizi jika rasa makanannya tidak asing. Gizi yang baik harus berjalan bersama rasa dan budaya,” ujar Hida.
Pendekatan ini bertujuan agar makanan benar-benar dikonsumsi habis dan tujuan penyediaan gizi tercapai. Standar wajibnya tetap mengacu pada gizi seimbang: Karbohidrat, Protein, Serat (Sayur), dan Buah.
Baca Juga: Program MBG Tetap Berlanjut Selama Ramadhan, Ini 4 Mekanisme Distribusi Terbarunya
Menjawab Menu Polemik "Minim" dan Anggaran Per Porsi
Wakil Kepala Badan Bidang Komunikasi dan Investigasi BGN, Nanik S. Deyang, mengatakan bahwa anggaran bahan baku berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi.
Rincian alokasi anggaran tersebut dibagi sebagai berikut:
Bahan Baku: Rp8.000 (untuk balita sd siswa SD kelas 3) dan Rp10.000 (untuk siswa kelas 4 SD ke atas hingga ibu menyusui).
Biaya Operasional (±Rp3.000): Meliputi biaya listrik, gas, udara, transportasi, hingga insentif relawan dan guru penanggung jawab.
Insentif Fasilitas (±Rp2.000): Digunakan untuk sewa dapur, alat masak modern (chiller, freezer), dan wadah makanan higienis.
Baca Juga: Program MBG di Kediri Tetap Berjalan saat Ramadhan, Makanannya Jadi Begini
Evaluasi Ketat Selama Ramadhan
Menyanggapi laporan mengenai menu yang dinilai kurang layak, seperti paket temuan berisi roti, kurma, dan kacang goreng di beberapa daerah, Kepala BGN Dadan Hindayana langsung melakukan evaluasi menyeluruh.
Beberapa poin krusial dalam evaluasi Ramadhan ini meliputi:
Kemasan dan Higienitas
BGN meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai menyediakan alat vakum (vacuum sealer) agar makanan tetap awet dan higienis hingga sampai ke tangan penerima. Penggunaan kantong plastik sederhana akan diganti dengan kemasan yang lebih representatif.
Perubahan Komposisi
Dadan menyarankan penggantian komponen tertentu, misalnya mengganti kacang dengan telur. Telur dinilai memiliki citra protein yang lebih baik dan harga yang lebih terjangkau, sehingga porsinya bisa lebih optimal tanpa mengurangi nilai gizi.
Kualitas Bahan Baku
BGN kuliner agar tidak ada kompromi soal kualitas. Jika ditemukan bahan yang tidak layak, distribusi harus ditunda untuk diganti pada hari berikutnya.
Baca Juga: Berkah MBG, Pembudidaya Lele Mulai Pasok Produk Lele ke SPPG
Ruang Pengaduan Masyarakat
BGN menyadari bahwa dalam skala program nasional yang masif, penyimpangan di lapangan bisa saja terjadi.
Oleh karena itu, Staf Khusus BGN Redy Hendra Gunawan meminta masyarakat dan pihak sekolah untuk aktif melapor jika menemukan menu yang tidak sesuai Standard Operating Procedure (SOP).
“Jika ada kasus menu yang tidak sesuai ketentuan, mohon segera lapor melalui call center kami. Kami akan mengonfirmasi secara profesional guna memastikan program berjalan sesuai relnya,” tegas Redy.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian