Dokumen tersebut bernama Epstein files, dirilis Departemen Kehakiman AS mulai (30/1) memuat sekitar tiga juta halaman dokumen, 180.000 gambar, dan 2.000 video.
Sejak dirilis, dokumen tersebut dengan cepat beredar di media sosial dan memunculkan berbagai spekulasi soal dugaan hubungan Epstein dengan sejumlah tokoh berpengaruh dunia, dari kalangan bangsawan dan politisi hingga tokoh industri teknologi.
Baca Juga: Membongkar Jaringan Jeffrey Epstein: Ini Daftar Tokoh Berpengaruh yang Tertera dalam Dokumen
Jeffrey Epstein, yang meninggal di penjara pada tahun 2019 setelah dinyatakan bersalah dalam kasus kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur, kembali menjadi sorotan. Namanya ramai dibicarakan lagi setelah sejumlah dokumen dirilis dan memicu berbagai klaim sensasional di tingkat internasional.
Dilaporkan dari JAwapos Jumat, (6/2), salah satu klaim yang paling menyita perhatian muncul dari korespondensi antara Ariane de Rothschild dan Epstein.
Dalam dokumen itu disebutkan bahwa ketika Adolf Hitler hidup dalam kondisi miskin di Wina, ia pernah tinggal di tempat penampungan yang disebut-sebut mendapat dukungan dana dari keluarga Rothschild dan keluarga Epstein.
Klaim tersebut langsung viral dan memicu memanasnya berbagai platform. Namun, narasi itu tidak sejalan dengan catatan sejarah arus utama yang selama ini dikenal masyarakat.
Selain itu, dokumen Epstein juga memuat korespondensi email antara pendiri Microsoft Bill Gates dan Jeffrey Epstein pada tahun 2017. Dalam arsip tersebut tercatat seorang pejabat dari Gates Ventures, yang saat itu masih bernama bgC3, mengirimkan email kepada Gates terkait rencana bisnis serta sejumlah proyek think tank internal.
Baca Juga: Siapa Jeffrey Epstein? Profil Lengkap Miliarder di Balik Skandal yang Menyeret Elite Dunia
Email itu kemudian diteruskan Gates ke Epstein. Isinya mencantumkan daftar proyek yang termasuk bersifat sensitif, termasuk salah satu yang berjudul “Rekomendasi Lanjutan dan atau Spesifikasi Teknis untuk Simulasi Pandemi Strain.”
Dokumen tersebut menonjolkan sorotan karena menampilkan adanya pembagian informasi mengenai proyek-proyek internal, termasuk yang berkaitan dengan bidang pertahanan biologi dan neuroteknologi.
Laporan Euronews menyebutkan bahwa isi email tersebut menunjukkan Gates pernah membagikan informasi mengenai sejumlah proyek think tank internal milik Epstein, termasuk proyek simulasi pandemi. Bagian ini kemudian ramai diperbincangkan karena dinilai menandakan adanya kajian atau pemodelan terkait skenario pandemi sebelum munculnya COVID-19.
Namun demikian, sejumlah pakar hukum dan sejarawan mengingatkan bahwa tercantumnya nama tokoh dunia dalam dokumen Epstein tidak otomatis berarti mereka terlibat dalam aktivitas kriminal.
Baca Juga: Lengkap! Link PDF Dokumen Jeffrey Epstein yang Bocor: Nama-Nama Besar Akhirnya Terungkap
Bagian lain dalam dokumen tersebut juga menyinggung nama maestro media Robert Maxwell, ayah dari Ghislaine Maxwell. Arsip itu memuat tuduhan bahwa Maxwell pernah menuntut 400 juta poundsterling kepada Mossad, disertai ancaman akan membuka peran lembaga tersebut jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Dalam email bertanggal 15 Maret 2018, Robert Maxwell disebut memiliki akses luas ke sejumlah pusat kekuasaan dunia, termasuk mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, mantan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan, hingga pihak Kremlin. Dokumen tersebut bahkan menyebutnya sebagai “duta tidak resmi” Israel di blok Soviet.
Dokumen itu juga mengembalikan kematian Maxwell pada 5 November 1991 setelah terjatuh dari kapal pesiarnya di perairan dekat Kepulauan Canary. Secara resmi, peristiwa itu dinyatakan sebagai kecelakaan tenggelam, meskipun berbagai spekulasi mengenai penyebab kematian terus terjadi hingga kini.
Baca Juga: Vaksin TBC Bill Gates M72/AS01E yang Diuji Coba di Indonesia. Seperti Apa?
Catatan lain dalam dokumen Epstein ikut berbau dinamika geopolitik Rusia dan Ukraina. Dalam arsip bertanggal 11 Januari 2012, dibahas kemungkinan sosok pengganti Presiden Vladimir Putin. Nama mantan anggota parlemen Rusia, Ilya Ponomarev, disebut sebagai salah satu tokoh potensial, dengan catatan spekulatif bahwa hal itu bisa terjadi “jika ia tidak dibunuh”. Ponomarev sendiri diketahui memperoleh izin tinggal di Ukraina pada tahun 2016 dan kemudian menjadi warga negara Ukraina pada tahun 2019.
Dokumen yang sama juga memuat referensi terkait Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Salah satu email pada tahun 2019 mencantumkan kalimat, “Zelenskyy mencari bantuan,” serta klaim bahwa Putin pernah mengejeknya sebagai “disetir oleh orang Israel.”
Menangapi publikasi dokumen tersebut, anggota Kongres Amerika Serikat Ro Khanna menyatakan bahwa baru sekitar separuh arsip Epstein yang dirilis ke publik. “Baik hanya setengah dari dokumen Epstein yang telah dirilis. Apa yang sudah dipublikasikan cukup untuk menggemparkan hati nurani masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus penekanan agar ada transparansi lebih lanjut serta pengawasan terhadap jejaring kekuasaan tingkat global.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian