JP RADAR KEDIRI– Manusia memiliki berbagai macam karakter. Salah satunya adalah Silent Majority, dimana sekelompok besar orang tidak sering bersuara di ruang publik atau media sosial namun jumlahnya cukup besar dan bisa punya pengaruh kuat terhadap hasil suatu keputusan atau wacana.
Hal ini juga cukup disinggung dalam Pemilu 2024 dimana sebagian masyarakat disebut mayoritas yang diam. Namun sebenarnya mereka bukan golput, melainkan memilih diam atau tidak aktif dalam diskusi publik, berbeda dengan kelompok lain yang aktif bersuara di media sosial.
Istilah silent majority dipopulerkan oleh Presiden AS Richard Nixon melalui pidato televisi pada 3 November 1969 untuk menyebut warga Amerika yang tidak ikut dalam demonstrasi Perang Vietnam. Namun, istilah ini sebenarnya telah digunakan sebelumnya, sejak 1919 dan bahkan pada abad ke-19 dengan makna berbeda. Selain itu makna historis dari Silent Majority juga berubah dari waktu ke waktu.
Fenomena ini bisa terjadi karena banyak orang memilih diam dengan berbagai alasan. Beberapa diantaranya adalah nyaman berposisi sebagai penonton, takut memberi pendapat publik, merasa tidak punya platform, atau lelah melihat debat panas di media sosial.
Selain itu, ketakutan terhadap tekanan sosial dan takut dikomentari juga menjadi faktornya sehingga mereka lebih fokus ke tindakan nyata daripada memposting opini. Disini dapat di lihat perbedaan kultur antara online vs offline.
Silent Majority tidak hanya sekedar soal politik. Istilah ini juga muncul dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, kampus, tempat kerja, komunitas, atau organisasi.
Contohnya ketika pasif di dalam kelas saat proses pembelajaran, hanya diam, mencatat, dan setuju atau tidak setuju tanpa mengungkapkan secara langsung. Banyak orang memilih diam karena takut salah, tidak percaya diri, atau merasa pendapatnya tidak akan mengubah keadaan sehingga keputusan terakhir dipengaruhi oleh kelompok yang vokal saja.
Fenomena Silent Majority mengingatkan bahwa tidak semua sikap diekspresikan lewat suara keras atau perdebatan terbuka. Terkadang, suara yang tidak terdengar memiliki pandangan dan pilihan yang tetap hadir serta memberikan dampak nyata dalam kehidupan sosial.
Penulis adalah Arlintang Sekar Phambayun, Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian