Fenomena ini kini menjadi sorotan di Indonesia menyusul meninggalnya selebgram Lula Lahfah, yang diduga terkait dengan gas tawa.
Di Eropa, gas tawa sempat meraih popularitas tinggi dan dijual bebas di sejumlah klub malam. Harganya tergolong murah, hanya sekitar 5 Euro per balon (setara Rp 80–85 ribu saat itu).
Namun, sejak 1 Januari 2023, pemerintah Belanda melarang peredaran gas tawa secara bebas.
Baca Juga: Siapa Ressa Rizky Rossano? Pemuda Banyuwangi yang Gugat Denada Rp 7 Miliar Terkait Status Anak
Isu gas tawa menjadi perhatian publik Indonesia setelah kematian selebgram Lula Lahfah viral di media sosial.
Selebgram populer, Lula Lahfah, dilaporkan meninggal dunia di usianya yang ke-26 pada Jumat, (23/1).
Sejumlah unggahan kejadian kematian tersebut dengan dugaan overdosis gas yang populer disebut “balon” itu.
Kepolisian Indonesia menyatakan bahwa penyebab kematian Lula Lahfah belum ditetapkan secara resmi, menyusul munculnya berbagai spekulasi.
Di kalangan netizen beredar rumor mengenai kematian dengan dugaan overdosis zat adiktif yang terkandung dalam produk bernama Whip Pink.
Secara fungsional, Whip Pink adalah alat kuliner yang digunakan untuk membuat krim kocok (krim kocok).
Gas Nitrous Oxide (N2O) dimasukkan ke dalam wadah dispenser untuk memberikan tekstur lembut dan kaku pada krim secara instan.
Menurut keterangan resmi, produk ini dirancang untuk membantu para Chef dalam menyiapkan resep hidangan. Namun, penggunaan gas N2O juga dapat menimbulkan risiko serius jika disalahgunakan.
Berdasarkan Alcohol and Drug Foundation, nitrous oxide sebenarnya digunakan sebagai anestesi disosiatif dalam bidang medis dan industri. Namun, saat disalahgunakan, gas ini sering dihirup melalui kacamata yang dikenal sebagai 'whippet' untuk mendapatkan sensasi euforia atau relaksasi sementara.
Bahaya menghirup nitrous oxide secara ilegal meliputi:
Penurunan tekanan darah secara drastis.
Pingsan tiba-tiba.
Serangan jantung.
Hipoksia: Kondisi fatal di mana tubuh kekurangan pasokan oksigen yang bisa menyebabkan kematian.
Menanganggap berbagai spekulasi, pihak kepolisian Indonesia menyatakan bahwa penyebab resmi kematian Lula Lahfah belum ditetapkan.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyampaikan pernyataan langsung kepada media.
Benar, seorang perempuan berinisial LL ditemukan meninggal dunia di sebuah unit apartemen. Saat ini kami masih melakukan olah TKP dan menyelidiki lebih lanjut, kata Budi Hermanto, dikutip dari Jawapos, Minggu, (25/1).
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak menyimpulkan penyebab kematian sebelum hasil pemeriksaan medis keluar. “Untuk memastikan penyebab kematian, harus dilakukan pemeriksaan secara ilmiah melalui otopsi,” ujarnya.
Berdasarkan pemeriksaan awal, polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Lula Lahfah. Namun, petugas mencatat adanya sejumlah bukti medis yang ditemukan di dalam kamar korban.
“Tidak ada tanda tanda tangan, namun ditemukan obat obat sama surat rawat jalan dari RSPI,” ungkap Murodih.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian