Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Waspada! Inilah Alasan Mengapa Child Grooming Sangat Sulit Disadari Orang Tua, Kenali Tanda-Tandanya

Internship Radar Kediri • Jumat, 23 Januari 2026 | 03:00 WIB

Child Grooming
Child Grooming

JP RADAR KEDIRI – Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans sedang ramai diperbincangkan. Berdasarkan cerita dari buku tersebut, masyarakat mulai menyinggung tentang Child Grooming. Untuk mencegah terjadinya perilaku ini, perlu kesadaran yang tinggi akan bahaya dan dampak yang ditimbulkan. Tanpa kita sadari, perilaku child grooming sudah banyak terjadi di lingkungan sekitar kita.

Baca Juga: Aurelie Moeremans Unggah Tulisan Memoar “Broken Strings:Fragments of A Stolen Youth’, Ungkap Pengalaman Pahit Child Grooming Masa Lalunya

Michigan State University Extension menyatakan bahwa child grooming adalah upaya yang dilakukan pelaku secara bertahap untuk mendekati dan membangun kepercayaan anak dengan tujuan melakukan kekerasan atau pelecehan seksual, sekaligus menghindari kecurigaan dari orang sekitar.

Penelitian dalam jurnal Child Abuse & Neglect menunjukkan bahwa 99 persen penyintas kekerasan seksual anak mengalami setidaknya satu bentuk child grooming, dengan rata-rata 14 perilaku grooming sebelum kekerasan terjadi. Penelitian ini juga menyebutkan bahwa grooming sulit dideteksi karena perilakunya yang mirip dengan interaksi normal antara orang dewasa dan anak, sehingga tanda-tandanya sering tidak dikenali sebagai eksploitasi dini. Ini karena proses grooming sangat bertahap, mulai dari interaksi yang terlihat “ramah” dan tidak mencurigakan  lalu berubah menjadi perilaku seksual yang menjebak anak ketika kepercayaan sudah diambil secara penuh.

Penelitian Afrooz Kaviani Johnson dalam Journal of Human Rights Practice,  menjelaskan bahwa di beberapa lingkungan baik di rumah, sekolah, dan lingkungan lainnya, hubungan dekat antara orang dewasa dan anak bisa dianggap normal bahkan dianggap sebagai bentuk kepedulian, bukan grooming. Ini membuat tanda-tanda awal grooming mudah terlewat atau dianggap perilaku positif. Hal ini mengingatkan para orang tua dan keluarga untuk selalu mengawasi aktivitas anak terutama anak yang masih di bawah umur.

Dikutip Jawa Pos, Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, menilai bahwa tindakan negara terhadap dugaan pelaku child grooming masih belum tegas. Ia menilai kasus Aurelie Moeremans menggambarkan ketidakmampuan pemerintah dalam menangani kejahatan tersebut secara serius. Ini menjadi pengingat bahwa kesadaran masyarakat, ketegasan negara, dan peran aktif keluarga menjadi kunci utama dalam melindungi anak dari kejahatan seksual.

Nama : Khansa Dhiya Ramadhania

Kampus : Universitas Negeri Malang

Editor : rekian
#Kesadaran masyarakat #Broken Strings #child grooming #perlindungan anak