"Namaku Aurelie, dan ini kisahku. Ikuti aku kembali ke tempat dan waktu yang membentuk diriku, bahkan ke momen-momen yang dulu ingin kulupakan," ungkap perempuan berdarah Eropa-Asia dalam pembuka buku tersebut.
Melalui karya otobiografi tersebut, Aurelie membuka lembaran kelam masa mudanya yang selama ini jarang diketahui publik, sekaligus mengangkat isu sensitif yang menuai perhatian luas dari warganet dan pembaca.
Termasuk yang paling mencengangkan adalah ungkapan pengalaman traumatis yang ia sebut sebagai praktik child grooming.
Perbincangan mengenai buku tersebut kian meluas setelah potongan pengakuan Aurelie beredar dan viral di media sosial pada awal Januari 2026. Hal itu memicu beragam respon publik serta diskusi mengenai perlindungan anak dan keberanian korban untuk bersuara.
Kutipan-kutipan dari memoar tersebut dengan cepat menyebar luas dan memicu diskusi publik mengenai hubungan tidak sehat yang sering mendapat perhatian, khususnya di lingkungan industri hiburan.
Seiring viralnya isi memoar tersebut, perhatian publik pun tertuju pada sosok pria dewasa yang disebut Aurelie telah mendekatinya sejak usia 15 tahun. Banyak warganet memotret identitas sosok yang dalam buku tersebut disamarkan dengan nama “Bobby”.
Dalam memoar Broken Strings, Aurelie menggambarkan praktik grooming sebagai proses yang berlangsung secara sistematis. Ia bahkan menerima kekerasan fisik oleh sosok Bobby tersebut.
"Telapak kakinya yang dingin, lembab, dan kotor menekan pipiku. Aku bisa merasakan butiran debu di kulitnya, mencium bau keringatnya. Bukan rasa sakit yang menghancurkanku, tapi rasa jijik, bahwa kesadaran ia bisa melakukan itu tanpa ragu, bahwa ia bisa memperlakukan wajahku seperti lantai, seperti tanah, seperti aku bukan manusia" tulis Aurelie.
Baca Juga: Roasting Gibran Ngantuk di Mens Rea, Komika Pandji Pragiwaksono Tuai Kritik dari Dokter Tompi
Sosok Bobby ditampilkan sebagai sosok yang secara perlahan mengisolasinya dari lingkungan sekitar. Kontrol terhadap cara berpakaian, komunikasi komunikasi dengan orang lain, hingga kemandirian emosional menjadi bagian dari pola tersebut.
Hal-hal yang awalnya tampak seperti bentuk perlindungan perlahan berubah menjadi tekanan psikologis yang menggerus kebebasan serta jati diri Aurelie.
Aurelie menuliskan bahwa hubungan manipulatif tersebut bermula ketika ia masih remaja dan baru memulai karir di dunia hiburan.
Pertemuan pertama dengan Bobby terjadi di lokasi syuting iklan, sebuah ruang kerja yang seharusnya menjadi lingkungan aman bagi pekerja muda. Ia mengaku baru menyadari kehilangan kendali atas hidupnya setelah dampak psikologis yang dialami kian berat.
Pria tersebut disebut berusia sekitar 29 tahun saat mulai mendekatinya. Perbedaan usia yang cukup jauh itu menciptakan ketimpangan kekuasaan yang besar dalam hubungan mereka.
Dalam kondisi tersebut, Aurelie mengaku kesulitan membedakan antara perhatian yang tampak tulus dan bentuk kontrol yang perlahan menjerat dirinya.
Ia mengakui pengalaman tersebut meninggalkan luka yang mendalam, mempengaruhi kesehatan mental, rasa percaya diri, serta kemampuan mengenali batasan dalam hubungan.
Aurelie bahkan menuliskan bahwa ia sempat kehilangan identitas dirinya dan kesulitan membedakan keinginannya sendiri dengan kehendak orang lain yang mengontrol hidupnya.
Hingga kini memoar tersebut masih beredar luas di media sosial dan menjadi perbincangan hangat warganet.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel
Editor : rekian