Jombang — Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, menjadi titik temu baru bagi sejumlah petinggi Nahdlatul Ulama (NU) pada Sabtu, 6 Desember 2025. Para mustasyar, syuriyah, dan tanfidziyah PBNU diundang dalam forum tertutup yang disebut sebagai lanjutan dari pertemuan para kiai sepuh di Pondok Pesantren Ploso, Kediri, beberapa waktu lalu.
Undangan ini digelar dalam dua sesi. Pada pagi hingga siang hari, jadwal ditujukan untuk 13 mustasyar, tiga syuriyah, dan dua pengurus tanfidziyah. Sesi kedua berlangsung dari siang hingga sore dengan komposisi lebih besar, yakni 30 mustasyar, tiga syuriyah, dan dua tanfidziyah.
Pantauan lapangan menunjukkan sejumlah nama besar NU mulai berdatangan sejak pagi. Di antaranya KH Anwar Manshur (Lirboyo), KH Said Aqil Siroj, Nyai Machfudhoh Aly Ubaid, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Mohammad Nuh, serta KH Nurul Huda Djazuli.
Mereka disambut oleh pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), bersama pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, KH Abdussalam Shohib. Media tidak diperkenankan meliput jalannya forum. Akses dokumentasi pun ditutup rapat.
Gus Yahya Hadir, Ziarah Dahulu
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) turut hadir. Ia datang bersama Sekretaris Jenderal PBNU H Amin Said Husni, Bendahara Umum H Sumantri Suwarno, dan Katib Aam KH Ahmad Said Asrori. Rombongan tidak langsung menuju lokasi pertemuan, tetapi lebih dulu melakukan ziarah ke makam Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari serta KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Kepada wartawan, Gus Yahya menyatakan kedatangannya merupakan bentuk penghormatan atas undangan yang diterima. Ia juga menyampaikan kesiapannya memberikan penjelasan terkait dinamika internal PBNU yang belakangan mencuat.
“Apa pun yang diminta nanti saya siap. Semua penjelasan, semua dokumen yang diminta,” ujarnya singkat usai ziarah. “Mudah-mudahan ini menjadi langkah baik” lanjutnya.
Surat Syuriyah: Undangan dan Agenda yang Bertabrakan
Sebelum forum hari ini berlangsung, Syuriyah PBNU telah melayangkan surat bernomor 4802/PB.02/B.I.01.71/99/12/2025, ditandatangani Wakil Rais Aam KH Anwar Iskandar dan Katib Syuriyah KH Ahmad Tajul Mafaakhir.
Dalam surat tersebut, Syuriyah mengapresiasi inisiatif Tebuireng namun meminta penjadwalan ulang, lantaran PBNU telah menetapkan agenda Rapat Pleno pada 9–10 Desember 2025, dengan undangan yang dikirim sejak 2 Desember—sehari sebelum undangan dari Tebuireng diterima.
“Dengan segala hormat, kami mohon agar panjenengan dapat melakukan penjadwalan ulang agenda silaturahim tersebut,” tulis Syuriyah dalam surat resmi.
Pertemuan Tertutup di Tengah Kontestasi Narasi
Silaturahmi hari ini menjadi salah satu upaya penjajakan rekonsiliasi di tengah menghangatnya situasi internal PBNU, terutama terkait rotasi pengurus, pembentukan Tim Pencari Fakta (TPF), hingga rencana pleno yang disebut-sebut krusial bagi arah organisasi.
Sampai berita ini ditulis, forum di Ndalem Kasepuhan masih berlangsung. Tidak ada pernyataan resmi yang keluar dari ruang pertemuan.
Publik dan warga nahdliyyin kini menanti: apakah pertemuan Tebuireng akan menjadi jalan islah, atau justru menjadi babak baru dalam tarik-menarik otoritas di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. (*)
Baca Juga: NU Solo Raya Desak Tabayun PBNU, Muktamar Luar Biasa Jadi Opsi
Editor : Jauhar Yohanis