Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Syuriah PBNU Desak Gus Yahya Mundur. Dewan Tanfidziyah Kumpul di Surabaya

Jauhar Yohanis • Minggu, 23 November 2025 | 13:19 WIB

Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf
Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf

Surabaya - Rapat harian Dewan Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memutuskan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, diminta mengundurkan diri dari jabatannya.

Keputusan yang diambil pada 20 November itu menetapkan batas waktu maksimal tiga hari bagi Gus Yahya untuk menyatakan mundur, sebagaimana tertuang dalam risalah rapat yang beredar di lingkungan internal PBNU.

Dokumen rapat mencatat bahwa 37 dari 58 (atau 53 menurut versi lain dalam penyampaian internal) pengurus Syuriah hadir dan menyetujui keputusan tersebut.

Risalah itu juga menguraikan alasan di balik desakan pengunduran diri, yakni kehadiran seorang narasumber dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional NU yang dinilai memiliki keterkaitan dengan jaringan Zionisme internasional.

Kehadiran tersebut disebut bertentangan dengan ajaran Ahlusunah wal Jamaah Annahdliyah serta tidak sejalan dengan mukadimah kanon asasi NU.

Menanggapi perkembangan itu, Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, meminta seluruh pihak untuk tidak berspekulasi.

Ia mengimbau pengurus dan kader NU tetap tenang dan menjalankan aktivitas organisasi seperti biasa. Ia juga menegaskan bahwa perkara tersebut berada dalam ranah Dewan Syuriah sebagai otoritas tertinggi.

Keputusan rapat Syuriah tersebut kemudian dimusyawarahkan bersama Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam PBNU, dan hasilnya tetap merekomendasikan agar Gus Yahya mundur.

Jika tidak dilakukan dalam batas waktu tiga hari, rapat Syuriah menyatakan akan melanjutkan proses pemberhentian dari jabatan ketua umum.

Di tengah tenggat tersebut, Dewan Tanfidziyah PBNU yang dipimpin Gus Yahya menggelar rapat dengan para ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) se-Indonesia di Surabaya.

Pertemuan tertutup yang dijadwalkan berlangsung pada pukul 19.00 itu belum dimulai hingga lebih dari satu jam setelah waktu yang ditentukan.

Gus Yahya tiba lebih awal namun tidak langsung memasuki ruang pertemuan dan terlebih dahulu bertemu sejumlah pengurus.

Dari daftar undangan tercatat 38 ketua PWNU, namun absensi tidak terlihat terisi sehingga tingkat kehadiran tidak dapat dipastikan.

Beberapa ketua PWNU menyatakan undangan disampaikan secara mendadak, menyulitkan pengurus dari daerah jauh seperti Aceh dan Papua untuk hadir tepat waktu.

Kepada wartawan, Gus Yahya menyebut dirinya belum menerima salinan resmi keputusan rapat Syuriah dan menegaskan bahwa pertemuan di Surabaya hanya merupakan agenda silaturahmi dan koordinasi rutin.

Namun sebagian ketua PWNU mengatakan bahwa kehadiran mereka juga dipicu oleh perkembangan terkait keputusan Syuriah mengenai posisi ketua umum.

Peliputan media dibatasi dan jurnalis hanya diperbolehkan berada di area lobi hotel, mencerminkan suasana internal yang sensitif.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi PBNU mengenai langkah selanjutnya, sementara publik dan warga NU menunggu kejelasan arah penyelesaian dinamika kepemimpinan di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.

Baca Juga: Hari Santri, BMT NU Al-Barkah Luncurkan Aplikasi BMT NU Mobile dan Agen BMT Link 

Editor : Jauhar Yohanis
#Tanfidziyah #Gus Yahya Cholil Staquf #Syuriah PBNU