Jakarta – Kepolisian memastikan siswa berinisial F, terduga pelaku peledakan bom rakitan di SMAN 72 Jakarta, tidak terkait jaringan terorisme. Hasil penyelidikan menunjukkan F bertindak mandiri setelah mempelajari materi ekstrem secara daring dan kerap mengakses situs gelap (dark web) berisi foto serta video kekerasan brutal.
F diduga membawa tujuh bom rakitan saat melancarkan aksinya. Empat di antaranya meledak di dua titik berbeda pada Jumat lalu, ketika khotbah Jumat sedang berlangsung. Ledakan memicu kepanikan dan menyebabkan 96 orang luka-luka, sebagian terkena luka bakar dan serpihan. Tiga bom lainnya gagal meledak dan diamankan tim penjinak bahan peledak.
Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suhieri menyebut F memiliki kepribadian tertutup, jarang bergaul, dan banyak mempelajari konten kekerasan secara mandiri melalui internet. Polisi menduga F merasa kesepian, tidak memiliki tempat bercerita, dan menyimpan dendam atas perlakuan yang ia anggap menindas, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah.
“Dorongan itu muncul karena ia merasa sendirian, tidak punya ruang untuk menyampaikan keluh kesah,” ujar Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanudin. Investigasi juga menemukan bahwa F terinspirasi oleh enam tokoh ekstremisme internasional, meski tidak mengikuti satu pun secara konsisten.
Polisi telah memeriksa 18 saksi, terdiri dari guru, siswa, korban, serta keluarga F. Aparat kini mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang mengajari pembuatan bom, termasuk melalui media sosial.
Akibat insiden ini, aktivitas belajar mengajar di SMAN 72 dialihkan sementara ke sistem daring. Aparat keamanan juga berjaga ketat di depan sekolah untuk mengantisipasi situasi lanjutan.
Juru bicara Densus 88, AKBP Mindra Eka Wardana, menuturkan bahwa frasa-frasa ekstrem yang diakses F di dunia maya memperkuat ketertarikannya pada kekerasan. “Ada komunitas yang mengagungkan tindakan kekerasan, dan itu turut memengaruhi,” katanya.
Pengamat terorisme, Nurhuda Ismail, menilai tragedi ini tidak bisa dibaca sebagai kasus tunggal. Menurut dia, insiden tersebut merupakan peristiwa multifaktor yang memperlihatkan kerentanan anak terhadap pengaruh ekstrem di ruang digital.
“Ini paradoks yang harus dibaca secara multidimensi. Ada aspek kriminal, psikologis, dan sosial. Negara harus hadir memastikan kesejahteraan psikologis anak-anak,” ujarnya.
Baca Juga: Update Ledakan di SMA 72 Jakarta. Polisi Ungkap Terduga Pelaku adalah Siswa Sendiri
Editor : Jauhar Yohanis