Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ribuan Santri HIMASAL Long March dari Stadion Brawijaya menuju kantor Pemkab Kediri. Memprotes Tayangan Trans7

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Rabu, 22 Oktober 2025 | 19:56 WIB

Ribuan anggota Himasal Kediri Raya melakukan long march dari depan Stadion Brawijaya menuju ke Pemkab Kediri memprotes tayangan Xpose Uncensored di Trans7
Ribuan anggota Himasal Kediri Raya melakukan long march dari depan Stadion Brawijaya menuju ke Pemkab Kediri memprotes tayangan Xpose Uncensored di Trans7

KOTA, JP Radar Kediri – Ribuan santri yang tergabung dalam Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Kediri Raya menggelar aksi damai pada Senin pagi (21/10). Mereka melakukan long march dari Stadion Brawijaya menuju kantor Pemkab Kediri sebagai bentuk protes terhadap tayangan “Xpose Uncensored” di Trans7 yang dianggap melecehkan para kiai dan pesantren.

Ketua Himasal Kediri Raya, Kiai Abu Bakar Abdul Jalil atau Gus Ab, mengatakan aksi ini merupakan bentuk kekecewaan mendalam atas isi tayangan tersebut. “Kami lakukan long march untuk menyampaikan aspirasi bahwa tayangan itu telah memfitnah dan merusak marwah pesantren,” ujarnya di tengah massa aksi.

Menurutnya, tuntutan utama para santri adalah agar pemilik Trans7, Chairul Tanjung, sowan langsung ke Kiai Anwar Mansyur, pengasuh Ponpes Lirboyo, untuk meminta maaf secara terbuka. “Permintaan maaf harus disampaikan langsung, bukan hanya klarifikasi di media,” tegasnya.

Selain itu, Himasal juga menuntut agar seluruh pihak yang terlibat dalam produksi tayangan tersebut diusut sesuai hukum. Mereka mendesak Trans7 membuat program berkelanjutan yang menampilkan kehidupan pesantren secara positif dan benar. “Jika ditemukan unsur kesengajaan, kami mendorong pemerintah meninjau ulang izin siar Trans7,” kata perwakilan alumni, Widodo Hamid.

Pantauan di lapangan, sekitar seribu peserta ikut dalam aksi damai itu. Mereka berjalan tertib sambil membawa poster bertuliskan dukungan terhadap kiai dan pesantren. Setibanya di Pemkab Kediri, massa menggelar istigasah bersama sebelum membubarkan diri dengan damai.

Rencananya, aksi serupa juga akan dilakukan di Surabaya dengan melibatkan alumni pesantren se-Jawa Timur. “Kami akan berangkat ke Surabaya untuk menyuarakan hal yang sama di DPRD Jatim,” ujar Gus Ab.

Aksi damai itu menjadi simbol kekompakan santri Lirboyo dalam membela marwah ulama mereka tanpa kekerasan, tetap santun namun tegas

Dalam sambutannya, Bupati Dhito mengapresiasi ketertiban dan kedamaian para santri dalam menyampaikan aspirasi. “Saya doakan yang berangkat ke Surabaya pulang-pergi selamat, dan semoga apa yang menjadi tujuan bisa tercapai,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar santri tidak terprovokasi oleh pihak mana pun. “Hati-hati, jangan terprovokasi siapapun. Saya yakin setiap langkah kalian disertai doa,” pesannya.

Dhito menyebut aksi damai tersebut sebagai yang pertama diterima secara resmi Pemkab Kediri setelah peristiwa 30 Agustus lalu. Menurutnya, aksi santri ini menunjukkan kedewasaan dalam berpendapat. “Ini aksi damai yang betul-betul damai, menunjukkan solidaritas santri terhadap kiai mereka,” katanya.

Bupati muda itu juga mengaku memahami betul kehidupan pesantren karena Kediri dikenal sebagai kota santri. Ia menilai, tayangan yang menyinggung kehidupan pesantren sangat melukai hati para santri dan alumni. “Saya bisa membayangkan betapa terlukanya teman-teman santri dengan tayangan yang kurang pantas itu,” ujarnya.

Dhito berharap persoalan antara pihak pesantren dan Trans7 bisa segera diselesaikan secara baik dan bermartabat. Ia menegaskan pemerintah daerah siap menjadi penengah bila dibutuhkan. “Kami terbuka untuk membantu agar semua pihak bisa berdamai dan menjaga nama baik pesantren,” ucapnya.

Suasana damai dan tertib mewarnai aksi hingga usai. Para santri pulang dengan tetap menjaga adab dan ketenangan, sebagaimana pesan yang selalu diajarkan para kiai mereka.(*)

Editor : Jauhar Yohanis
#Himasal #santri lirboyo #Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana