Ada 400-an desainer grafis dari seluruh Indonesia ramai-ramai mengirimkan karya terbaiknya. Saat Pemerintah membuka sayembara logo Sekolah Garuda, program pendidikan yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto untuk membentuk generasi unggul melalui pendidikan sains dan teknologi.
Dari ratusan perancang itu, salah satunya adalah Diyan Rizqianto. Hebatnya, karya alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri-kini UIN Syekh Wasil- itu keluar sebagai juara. Pengumuman pemenang itu keluar pada 6 Agustus silam.
Setelah berhasil menyisihkan ratusan kompetitor, karya Diyan dijajarkan dengan empat karya lainnya sebagai nominator. Mereka berasal dari Temanggung, Tegal, Pemalang, hingga Surabaya. Hingga akhirnya, karya logonya yang identik dengan bentuk abstrak dari pita warna merah dan putih itu dipilih sebagai pemenang sayembara yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) itu.
“Kalau sayembara kan kuncinya pada brief. Jadi bagaimana kita memahami brief itu menjadi kunci utama. Dari brief itu baru saya ambil tema menggapai asa menuju generasi emas 2045,” ujar pemuda asal Desa Bakalan, Kecamatan Grogol, itu.
Dari situ Diyan mengambil inspirasi utama sebuah pita merah putih. Inspirasi dari pita itu dia analogikan sebagai perjalanan panjang pendidikan nasional menuju kemajuan.
“Kalau di brief itu, nama sekolahnya sebenarnya ada kata unggul-nya. Jadi SMA Unggul Garuda. Dari kata unggul itu saya buat pita yang menjulang ke atas,” ungkap pemuda kelahiran 1996 itu.
Secara visual, logo karyanya itu tak hanya bisa dilihat sebagai pita yang meliuk. Namun juga visualisasi Garuda yang ditampilkan dalam bentuk abstrak. Membuat desainnya terkesan lebih modern dan futuristis.
“Kalau dari pandangan desainer disuruh bikin logo untuk Sekolah Garuda, pasti pikiran kalau enggak buku, ya pena yang simbolik dengan sekolah. Tetapi di situ kan untuk program ini tersimpan harapan panjang. Makanya di situ saya mengibaratkan apa ya yang bisa mewakili perjalan jauh itu? Ya sudah akhirnya ambil pita merah putih,” kenangnya, tentang proses mencari inspirasi itu.
Butuh waktu sekitar tiga hari bagi Diyan sampai bisa menentukan logo itu. Berbagai riset hingga brainstorming dia lakukan sampai mendapat gagasan terbaik. Proses perenungan ide itu juga yang menurutnya menjadi tahapan paling sulit. Jika risetnya butuh waktu hanya tiga hari, eksekusinya lebih cepat lagi.
“Eksekusinya paling hanya 3 sampai 4 jam,” tandasnya.
Menggeluti bidang desain itu sudah dia lakukan sejak beberapa tahun lalu. Bermula dari hobi sampai mengembangkannya sebagai ladang bisnis lewat usaha freelance. Rutinitas itu berjalan beriringan dengan hobinya ikut sayembara desain.
Diyan pun mulai secara profesional menjadi desainer logo sejak 2020 lalu. Dengan konsentrasi pada desain kemasan dan branding produk. Dan sekarang, alumnus SMP Negeri 8 Kota Kediri itu juga seorang desainer di Pusat Layanan Kemasan Kabupaten Kediri.
Di balik kesibukannya sebagai desainer muda, Diyan punya relasi yang erat dengan dunia pesantren. Dia merupakan alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Prestasinya itu membuktikan bahwa dari tangan seorang santri bisa terlahir inovasi dan ide yang dia sumbangkan untuk negeri.
“Saya empat tahun mondok di sana. Dan satu tahun lagi untuk pengabdian,” kenangnya.
Menjadi alumnus pondok pesantren, banyak nilai-nilai spiritualitas yang relevan bagi kehidupannya saat ini. Termasuk dalam berkarya sebagai desainer maupun saat dia mengikuti berbagai sayembara. Sudah tak terhitung berapa kali dia mengikuti perlombaan serupa. Meski tak selalu mendapat jaminan kemenangan, hal itu tak menjadi masalah besar baginya.
“Yang lebih banyak kita dapatkan dari pondok pesantren itu kan terkait spiritualitas. Bagi saya itu jadi landasan kita. Mulai dari nilai keikhlasan, dan kalau berusaha pasti ada hasilnya. Misal kalau waktu sayembara seperti ini, kita berusaha saja dulu. Berkarya dulu. Hasilnya apa, menang atau kalah, kita jadi bisa lebih mudah menerima,” urainya.
Meski sudah lulus dari pondok pesantren, nilai-nilai spiritualitas yang dipelajarinya di pondok tetap dia pegang. Termasuk di berbagai event sayembara, prinsipnya tak ragu untuk meraih peluang. “Yang penting dicoba saja. Disalurkan idenya. Mending ikut meskipun kalah daripada tidak sama sekali,” tandasnya.
Editor : Jauhar Yohanis