JP Radar Kediri-Penerbangan umrah reguler di Bandara Dhoho agaknya tidak akan menemui banyak hambatan. Selain perizinan yang tengah diurus oleh Flyadeal, sejumlah travel umrah di Kediri Raya juga mendukung pembukaan rute tersebut. Mereka siap pindah ke Bandara Dhoho jika sudah ada kepastian jadwal.
Chief Executive Officer Flyadeal wilayah ASEAN Abdul Offar Musa mengatakan, di tahap awal penerbangan umrah akan dilakukan dua kali dalam seminggu.
“Permulaan (penerbangan umrah (dua kali seminggu) agar ada kesinambungan. Kalau satu kali seminggu kru harus stay seminggu. Kalau dua kali seminggu itu nice,” ungkap pria asal Malaysia itu.
Lebih jauh Offar menyebut, penerbangan umrah oleh Flyadeal nantinya bersifat reguler. Bukan penerbangan carter alias tidak terjadwal. Jika animo jemaah dari wilayah selatan Jatim lebih tinggi, dia mengaku siap menambah volume penerbangan.
“Bisa empat kali seminggu,” terangnya.
Seperti diberitakan, rencana penerbangan umrah di Bandara Dhoho sempat maju mundur. Sebelumnya, Citilink dan Lion Group juga menyatakan minat membuka penerbangan umrah pada akhir 2024 lalu. Namun tak kunjung terwujud.
Asa penerbangan umrah muncul kembali setelah Bandara Dhoho mendapat izin penerbangan internasional direct pada 8 Agustus 2025. Minat Flyadeal untuk membuka rute penerbangan umrah semakin membuka harapan terwujudnya penerbangan internasional karena selama ini penerbangan gagal akibat tidak adanya slot penerbangan ke Arab Saudi dari Kediri.
Demi mewujudkan penerbangan umrah itu, Flyadeal tengah mengurus beberapa kelengkapan perizinannya. Setelah mendapat izin dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, mereka juga bersurat ke GACA (General Authority of Civil Aviation) atau badan perhubungan udara di Arab Saudi.
Oktober ini mereka tinggal menunggu turunnya Foreign Air Operator Certificate (FAOC). “Rencananya pesawatnya Boeing 777 dengan kapasitas 364 penumpang,” jelas Offar.
Sementara itu, rencana penerbangan umrah oleh Flyadeal mendapat sambutan positif sejumlah biro travel. Owner Rameyza Tour and Travel Siti Maslihah mengatakan, pihaknya siap pindah terbang lewat Kediri jika Flyadeal benar-benar membuka rute penerbangan umrah di Kediri.
“Kami senang kalau ada penerbangan dari Kediri. Ya jelas berangkat dari Kediri,” turutnya.
umrahBaca Juga: Bandara Dhoho Kediri Bersiap Layani Penerbangan Umrah Langsung ke Arab Saudi
Hanya saja, untuk blocking seat atau pemesanan kursi pesawat, Rameyza telanjur melakukan pemesanan hingga Januari-Februari 2026. Karenanya, jika Flyadeal benar-benar beroperasi, dia siap memesan seat dari Kediri.
“Kami hanya minta agar maskapai tidak mengubah jadwal penerbangan. Travel bisa hancur (rugi) kalau jadwal penerbangan berubah-ubah. Soalnya selain blocking seat, kami juga pasti bayar hotel (di Arab Saudi). Kalau jadwal berubah, uang hotel hangus,” lanjut perempuan yang setiap bulan rata-rata memberangkatkan dua gelombang jemaah umrah itu.
Senada dengan Maslihah, Direktur Utama Jennaty Tour and Travel Zaki Zamani juga mengaku siap terbang dari Bandara Dhoho. Sebab, penerbangan dari Kediri otomatis akan memangkas biaya transportasi dari dan ke Bandara Juanda di Surabaya.
“Kalau harga (tiket pesawat) sama dengan Surabaya, travel dari Mojokerto dan Gresik pasti tetap akan lewat Surabaya. Kalau harga dari Kediri lebih kompetitif pasti akan lebih banyak yang ke Kediri,” papar Zaki yang menunggu kepastian dimulainya penerbangan umrah di Kediri.
Direktur Utama Multazam Alhadi Tour and Travel Syamsul Hadi juga mendukung penerbangan umrah di Bandara Dhoho. Dia hanya meminta adanya jaminan penerbangan.
“Izin penerbangan turun dan ada jaminan serta komitmen betul-betul pesawatnya ready dan terbang. Karena travel butuh kepastian setelah dua kali mengalami kegagalan penerbangan keberangkatan umrah lewat Bandara Dhoho,” tuturnya.
Flyadeal, lanjut Syamsul, belum pernah beroperasi di Indonesia. Melainkan baru akan uji coba di Makassar dan Kediri. Hal itu pula yang membuat travel meminta jaminan untuk terbang agar masyarakat percaya.
Senada dengan Zaki, Syamsul juga meminta agar harga tiket bisa lebih murah dari maskapai lainnya. “Hampir semua travel menginginkan juga penerbangan yang langsung dari Bandara Dhoho langsung Jeddah atau Madinah secara direct tidak transit,” tandasnya sembari menyebut Multazam Al Hadi baru bisa terbang di Bandara Dhoho mulai 2026 nanti. Sebab, mereka telanjur memesan seat pesawat di Bandara Juanda hingga Desember nanti.
“Insya Allah di bulan Januari keberangkatan jemaah umrah kami arahkan lewat Bandara Dhoho. Namun sekali lagi harus ada kepastian terbangnya. Sekali tidak jadi berangkat kerugian kami bisa miliaran karena biaya umrah 60 persennya sebagian besar untuk tiket pesawat,” imbuhnya. (*)
Editor : Mahfud