Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Geger Tayangan Trans7, Warganet Tuntut Permintaan Maaf Langsung Ke Lirboyo

Jauhar Yohanis • Selasa, 14 Oktober 2025 | 22:33 WIB

Andi Chairil , Production Director Trans7, minta maaf langsung melalui canel youtube @TRANS7official
Andi Chairil , Production Director Trans7, minta maaf langsung melalui canel youtube @TRANS7official

JP Radar Kediri – Gelombang protes datang dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan masyarakat pesantren di Kediri, Jawa Timur, menyusul tayangan di salah satu program Trans7 yang dinilai provokatif dan merendahkan martabat pesantren, khususnya Pondok Pesantren Lirboyo.

Seruan boikot terhadap stasiun televisi nasional itu ramai digaungkan di media sosial dengan tagar #BoikotTrans7. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kediri mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh kader, simpatisan, dan santri agar ikut meramaikan gerakan tersebut.

Dalam pernyataannya, KH Abdul Nashir Badrus, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Kediri, menilai tayangan itu telah mencemarkan nama baik lembaga pesantren. Hal senada disampaikan KH Muhammad Makmun, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Kediri. Ia menegaskan, “Kami meminta pihak Trans7 untuk bertanggung jawab dan menunjukkan itikad baik kepada pesantren, khususnya Lirboyo.”

Tuntutan Sowan dan Klarifikasi Langsung

Dari pantauan di kolom komentar berbagai akun media sosial, banyak warga net, alumni pesantren, dan masyarakat Kediri menuntut pihak Trans7 untuk datang langsung ke Pondok Pesantren Lirboyo guna menyampaikan permintaan maaf secara tatap muka.

“Kalau minta maaf, datang langsung, jangan hanya lewat surat atau media sosial,” tulis akun bernama Dandi Riyadi. Komentar serupa muncul dari banyak akun lain, seperti Imam Safi’i yang menulis tegas, “Wajib sowan ke Lirboyo!”

Beberapa warganet juga menyebut tindakan Trans7 sebagai bentuk pelecehan terhadap ulama dan santri. Akun Lek Jo, misalnya, menulis: “Media sekelas Trans7 menayangkan konten yang terkesan merendahkan ulama. Media harusnya menjaga adab, bukan menebar kegaduhan.”

Reaksi Keras dari Warga Kediri

Kemarahan warga Kediri terlihat jelas di berbagai unggahan. Ada yang menilai tayangan itu tidak melalui proses penyuntingan yang cermat.
“Selevel TV nasional kok bisa kecolongan tayang yang mengandung SARA? Jangan-jangan editor-nya nggak paham dunia pesantren,” tulis Mbah Purna.

Warganet lain, Nur Muhaimin, mengingatkan bahaya sikap tidak hormat kepada pesantren dan ulama. “Kita orang Kediri itu sangat tawadhu kepada kiai. Kalau nggak hati-hati bisa kuwalat,” tulisnya dengan nada geram.

Sementara akun Choliq Hawari bahkan mengancam akan membubarkan setiap liputan Trans7 di mana pun berada jika tidak ada itikad baik. “Jangan macam-macam menghina Mbah Yai saya,” tulisnya keras.

Seruan Moral dari Alumni dan Aktivis Pesantren

Sikap serupa datang dari jaringan alumni Pondok Pesantren Lirboyo dan aktivis RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) PCNU Kabupaten Kediri. Dalam pernyataan resminya, Ketua RMI PCNU Kediri K. Ma’adzallah mengajak seluruh insan pesantren untuk ikut menyuarakan gerakan boikot.

Akun media sosial @SerambiLirboyo juga mengunggah pernyataan keras. “Media sekelas nasional lupa menjaga etika pemberitaan. Pesantren memang bukan institusi sempurna, tapi jangan dilecehkan dengan framing murahan,” tulisnya.

Desakan untuk KPI

Selain mengecam Trans7, beberapa warganet juga mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk memberikan sanksi. “KPI harus turun tangan. Jangan biarkan media nasional seenaknya menayangkan konten provokatif,” tulis akun @SuaraUmat dalam unggahannya yang viral.

Banyak pula yang mengkritik lemahnya sistem seleksi tayangan di stasiun televisi tersebut. “Sebelum tayang, pasti ada proses penyuntingan. Kalau masih bisa lolos, berarti ada yang salah di dalamnya,” tulis akun Miftakhul Huda.

Akhir Kata: Ujian bagi Dunia Jurnalistik

Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi dunia jurnalistik nasional agar lebih berhati-hati dalam mengangkat isu keagamaan, terutama yang menyangkut institusi pendidikan Islam seperti pesantren.

“Jurnalis seharusnya mengedukasi, bukan mendiskreditkan,” tulis akun @SuaraUmat yang disetujui ratusan warganet.

Baca Juga: Terbaru! Trans7 Klarifikasi dan Unggah Permintaan Maaf, Akui Adanya Keteledoran yang Merugikan Ponpes Lirboyo

Trans7 Telam Meminta Maaf

Secara resmi Trans7 telah meminta maaf. Melalui instagram @officialtrans7 juga youtube @TRANS7official. Permintaan maaf disampaikan langsung oleh Presiden Director Andi Chairil.

Dari konfirmasi Radar Kediri, besok (15/10) pihak Trans 7 direncanakan akan sowan ke Lirboyo untuk secara langsung menyampaikan permintaan maaf atas berita yang menghebohkan tersebut (*)

Editor : Jauhar Yohanis
#trans 7 #pondok pesantren #lirboyo #boikot