Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Periksa Retakan Beton Jembatan Semampir, BBPJN Akan Lakukan Loading Test untuk Menguji Lendutan

Ayu Ismawati • Rabu, 17 September 2025 | 18:35 WIB
Sejumlah pekerja bersiap melanjutkan pengerokan aspal di Jembatan Semampir .
Sejumlah pekerja bersiap melanjutkan pengerokan aspal di Jembatan Semampir .

JP Radar Kediri-Rehab Jembatan Semampir yang saat ini dikebut oleh Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Jatim-Bali agaknya harus menempuh beberapa tahapan. Selain mengerok seluruh aspal, mereka masih akan melakukan loading test dan memeriksa potensi retakan beton di sana. 

          Koordinator Lapangan (Koorlap) Proyek Rehabilitasi Jembatan Semampir BBPJN Jatim-Bali Wilayah Kediri Teddy mengatakan, di tahap awal rehab Jembatan Semampir, pihaknya mengerok lapisan aspal lantai jembatan dengan cold milling machine (CMM). Proses pengerokan lapisan aspal tersebut masih berlangsung hingga kemarin siang. “(Pengerokan aspal) untuk mengetahui di bawahnya aspal itu, dalam artian beton atau cornya seperti apa,” kata Teddy.

          Setelah kondisi beton jembatan diketahui, Teddy mengaku akan berkoordinasi dengan Satker Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN). Terutama terkait langkah lebih lanjut pascapengecekan kondisi beton.

          “Apakah ada retak, ada pecah. Nanti apa yang dilakukan setelah temuan itu, (ahli jembatan) yang bisa menjawab,” lanjutnya.

          Selain memeriksa kondisi beton jembatan, menurut Teddy pihaknya juga punya pekerjaan rumah (PR) terkait expansion joint atau sambungan jembatan di sisi timur yang renggang. Idealnya, renggangan antara abutmen dan girder itu maksimal lima sentimeter. Namun, renggangan di sisi timur itu sekitar 25-27 sentimeter.

          Karenanya, BBPJN akan membongkar sambungan jembatan di sisi timur tersebut. “Dibongkar dulu expansion joint-nya,” terang Teddy terkait upaya mempersempit renggangan di sambungan Jembatan Semampir.

          Sementara itu, skema pengalihan arus lalu lintas yang diterapkan Pemkot Kediri turut berimbas pada kendaraan angkutan besar yang dilarang melintas di jembatan Kota Kediri. Di antaranya arus lalu lintas di Jembatan Brawijaya yang semakin padat.

          “Untuk kendaraan besar seperti bus dan truk itu tidak boleh melintas di Jembatan Brawijaya. Di situ kami larang karena berpotensi terjadi peningkatan kepadatan (kendaraan) di Jembatan Brawijaya,” terang Kepala Dinas Perhubungan Kota Kediri Didik Catur.

          Pantauan Jawa Pos Radar Kediri siang kemarin, beberapa truk besar masih melintas di jembatan tersebut. Khususnya dari arah barat menuju ke timur. Terkait jalur kendaraan angkutan berat itu, Didik mengatakan pengemudi truk bisa mengambil jalur lain.

          Misalnya, dari arah utara bisa mengambil jalur melalui Papar tembus Bogo hingga ke arah Simpang Lima Gumul. Sebelum kemudian mengarah ke Tulungagung atau Blitar.

          “Berikutnya khusus untuk kendaraan muatan 10 ton ke atas dari arah setelah RS Gambiran di Jl Kapten Tendean itu kami harapkan tidak masuk ke kota. Tidak ke arah Jl S. Parman, tetapi ke arah Jl Panjaitan menuju arah RS Baptis kemudian ke timur,” urai Didik sembari menyebut, rekayasa itu diterapkan untuk menghindari kepadatan di Jl PB Sudirman dan Jl Yos Sudarso.

Sebelumnya diberitakan, jembatan sepanjang 290 meter itu ditutup total sementara mulai Senin (15/9) lalu. Rencananya, penutupan jembatan akan berlangsung selama dua bulan ke depan untuk proses rehabilitasi. BBPJN Jatim-Bali Kementerian PU melaksanakan rehabilitasi Jembatan Semampir karena ditemukan lendutan pada lantai jembatan.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#jembatan semampir