Demo Ojol Guncang Jakarta, Aplikasi Dimatikan Massal, Lalin Berpotensi Macet
Jauhar Yohanis• Rabu, 17 September 2025 | 15:59 WIB
Demo ojol
Jakarta – Ribuan pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia hari ini, Rabu (17/9), turun ke jalan. Aksi demonstrasi akan digelar di depan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) hingga ke Gedung DPR RI.
Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya Kombes Pol Komarudin memastikan rekayasa lalu lintas diberlakukan secara situasional menyesuaikan kondisi di lapangan. “Masih situasional. Harapan kami aktivitas masyarakat tetap bisa berjalan walaupun ada perlambatan,” ujarnya kepada wartawan.
Aplikasi Dimatikan Massal
Ketua Umum Garda Indonesia Raden Igun Wicaksono menyebut, aksi kali ini juga melibatkan mahasiswa. Tidak hanya turun ke jalan, para pengemudi ojol juga akan mematikan aplikasi sebagai bentuk solidaritas.
“Imbauan Garda terhadap warga Jakarta agar memilih moda transportasi alternatif pada Rabu, 17 September 2025, karena sebagian besar transportasi online akan mematikan aplikasi secara masif,” kata Igun.
Ia menegaskan, titik kumpul massa dimulai di Kemenhub lalu bergerak menuju Istana dan berakhir di DPR RI.
Deretan Tuntutan Ojol
Dalam aksinya, para pengemudi ojol membawa sejumlah tuntutan yang dinilai krusial. Pertama, mereka meminta rancangan undang-undang transportasi online dimasukkan dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2025–2026.
Selain itu, massa mendesak agar potongan (fee) dari aplikator maksimal 10 persen. Selama ini, potongan dianggap terlalu tinggi sehingga merugikan pengemudi.
Mereka juga menuntut adanya regulasi jelas terkait tarif pengantaran barang dan makanan, termasuk audit terhadap potongan yang diambil regulator.
“Banyak sistem yang membuat tarif lebih murah justru merugikan driver. Itu harus dihapus,” tegas Igun.
Tuntut Usut Kasus Kematian Driver
Tidak hanya soal regulasi, massa ojol juga membawa isu serius lainnya. Mereka menuntut pengusutan tuntas kasus tewasnya driver ojol Affan Kurniawan yang dinilai belum mendapatkan keadilan.
Bahkan, Garda Indonesia mendesak adanya pergantian kepemimpinan di Kementerian Perhubungan sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Warga Diminta Siaga
Dengan adanya aksi ini, warga Ibu Kota diminta bersiap menghadapi potensi kemacetan dan keterbatasan layanan transportasi online.
“Lebih baik gunakan transportasi umum lain atau moda alternatif. Karena aplikasi ojol sebagian besar dimatikan,” ujar Igun.
Meski begitu, polisi berharap unjuk rasa berjalan damai tanpa mengganggu kepentingan masyarakat. “Kami tetap memfasilitasi penyampaian pendapat. Tapi jangan sampai mengganggu ketertiban umum,” pungkas Kombes Komarudin.