JP Radar Kediri - Suasana duka menyelimuti Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau. Seekor anak gajah sumatra bernama Kalistha Lestari atau Tari, yang selama ini menjadi bagian dari tim Elephants Flying Squad, ditemukan mati mendadak pada Rabu (10/9) pagi.
Kematian Tari menyisakan luka mendalam, tak hanya bagi para mahout yang sehari-hari merawatnya, tetapi juga bagi pecinta satwa liar di seluruh Indonesia. Sebab, sehari sebelum ditemukan tak bernyawa, gajah betina berusia 2 tahun 10 hari itu masih terlihat sehat dan ceria. Ia bermain seperti biasa, dengan nafsu makan normal, bahkan tanpa tanda-tanda sakit.
Namun, keesokan harinya, sekitar pukul 08.00 WIB, mahout yang bertugas mendapati Tari terbaring lemah tanpa gerakan di camp Elephants Flying Squad, SPTN Wilayah I Lubung Kembang Bunga, Kabupaten Pelalawan. Upaya pemeriksaan segera dilakukan, namun Tari dinyatakan mati di lokasi.
“Pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada luka atau trauma pada tubuhnya. Hanya terlihat perutnya sedikit menggembung,” kata Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro, Senin (15/9).
Tak berhenti di situ, tim medis kemudian melakukan uji laboratorium untuk memastikan penyebab kematian. Hasilnya, Tari dinyatakan positif terinfeksi Elephant Endotheliotropic Herpes Viruses (EEHV), sejenis virus herpes yang hanya menyerang gajah, terutama anak gajah.
“Virus ini menyerang organ hati Tari. EEHV dikenal mematikan karena pergerakannya sangat cepat dan sulit ditangani. Penting diketahui bersama, virus ini hanya menular antar gajah, bukan dari interaksi dengan manusia atau pengunjung,” jelas Heru.
Heru menambahkan, tim medis dan para mahout sebenarnya sudah berupaya maksimal memberikan perawatan. Namun kondisi Tari memburuk begitu cepat hingga tak bisa diselamatkan.
“Kehilangan Tari menjadi duka mendalam bagi kami. Kami berterima kasih atas doa dan kepedulian semua pihak. Semoga kepergian Tari menjadi pengingat bahwa perlindungan gajah sumatra adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Kasus kematian Tari menambah panjang daftar gajah sumatra yang mati akibat serangan EEHV. Penyakit ini telah lama menjadi ancaman serius bagi populasi gajah muda di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia, gajah sumatra sendiri sudah berstatus critically endangered atau terancam punah, dengan jumlah populasi yang kian menyusut akibat perburuan, konflik dengan manusia, hingga penyempitan habitat.
Baca Juga: BKN Pastikan CPNS 2026 Resmi Dibuka, Ini Bocoran Jadwal dan Formasi Favorit
Balai TNTN berharap tragedi ini membuka mata banyak pihak. “Perlindungan habitat dan peningkatan layanan kesehatan satwa adalah kunci. Tanpa kerja sama semua pihak, sangat sulit menyelamatkan gajah sumatra dari ancaman kepunahan,” tegas Heru.
Kini, Tari memang telah tiada. Namun kisahnya diharapkan menjadi pengingat bahwa satwa liar bukan hanya bagian dari kekayaan alam, tetapi juga warisan bangsa yang wajib dijaga untuk generasi mendatang.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira