Ribuan demonstran yang sebelumnya berteriak dan membakar barang-barang seakan tersihir. Riuh rendah itu mendadak mereda, seolah diiringi alunan gending Jawa yang menenangkan hati.
Sri Sultan datang tanpa pengawalan resmi. Langkahnya sederhana, namun penuh wibawa. Massa yang semula bersitegang dengan aparat, sontak memberikan ruang. Seolah kehadiran sang raja membawa angin sejuk yang menurunkan panasnya amarah.
“Harapan saya karena sudah pagi, semua sudah lelah. Pulanglah. Orang tua kalian menunggu di rumah. Permintaan sudah dipenuhi, delapan orang teman kalian yang ditahan sudah dibebaskan. Jadi masalah ini selesai,” tutur Sultan dengan nada tenang, dikutip Radar Kediri dari Beritasatu.com.
Ucapan itu disambut dengan hening. Massa yang sebelumnya berkobar seperti api mendadak jinak. Perlahan-lahan mereka membubarkan diri, meninggalkan halaman Polda DIY yang sempat mencekam sejak Jumat malam.
Api Amarah dari Tragedi Ojol Affan Kurniawan
Aksi besar-besaran ini bermula dari tragedi yang menimpa Affan Kurniawan, seorang driver ojek online (ojol) yang tewas setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025).
Kematian Affan memicu gelombang solidaritas. Ribuan ojol dan simpatisan turun ke jalan, tidak hanya di Jakarta tetapi juga merembet ke berbagai daerah, termasuk Yogyakarta. Di DIY, hampir seribu orang mengepung Polda. Mobil dinas dibakar, fasilitas umum dirusak, dan situasi memanas.
Namun, kehadiran Sri Sultan Hamengkubuwono X menjadi titik balik. Ia hadir sebagai pemimpin yang tidak hanya bicara hukum, tetapi juga mengedepankan rasa, budaya, dan kearifan lokal. Seperti gending Jawa yang perlahan mengalun, pesan damai Sultan masuk ke hati massa tanpa harus ada gas air mata atau tembakan peringatan.
Raja, Rakyat, dan Rasa Aman
Peristiwa dini hari itu memperlihatkan betapa figur Sultan masih memiliki tempat khusus di hati rakyat Yogyakarta. Di saat aparat kesulitan meredakan situasi, sosok raja yang turun langsung justru menjadi solusi.
“Masyarakat Jogja itu masih manut karo dawuh Sultan. Wong Jawa percaya, suara Sultan iku kaya swara gending sing menentramkan,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang ikut memantau jalannya aksi.
Kini, publik menilai sikap Hamengkubuwono X menjadi teladan bagi para pemimpin di tengah krisis. Bahwa di balik hiruk pikuk politik dan konflik sosial, kearifan budaya tetap bisa menjadi jembatan.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira