Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Terungkap! Dwi Hartono Dalang Pembunuhan Kacab BRI Ternyata Residivis Kasus Pemalsuan Ijazah

Ilmidza Amalia Nadzira • Kamis, 28 Agustus 2025 | 20:23 WIB
Dwi Hartono pernah berurusan dengan hukum akibat kasus pemalsuan ijazah di Semarang pada 2012 silam.
Dwi Hartono pernah berurusan dengan hukum akibat kasus pemalsuan ijazah di Semarang pada 2012 silam.

JP Radar Kediri - Penangkapan Dwi Hartono, tersangka penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang Pembantu (KCP) BRI Cempaka Putih, Mohamad Ilham Pradipta (37), membuka tabir kelam masa lalunya.

Pria yang dikenal publik sebagai pengusaha sekaligus motivator itu ternyata menyimpan rekam jejak kriminal.

Seperti diketahui, tim gabungan Subdit Jatanras dan Resmob Polda Metro Jaya telah mengamankan 15 orang tersangka terkait kasus penculikan berujung pembunuhan tersebut.

Dari jumlah itu, polisi membagi dalam empat klaster, yakni pengintai, penculik, eksekutor, serta dalang intelektual. Dwi Hartono disebut masuk dalam klaster terakhir bersama tiga orang lainnya.

Namun, siapa sangka, sosok Dwi bukanlah orang baru di dunia kriminal. Ia pernah berurusan dengan hukum akibat kasus pemalsuan ijazah di Semarang pada 2012 silam.

Baca Juga: Mengintip Kediaman Megah Dwi Hartono, Otak Penculikan dan Pembunuhan Kacab BRI

Pernah Jadi Residivis

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Andika Darma Sena, membenarkan bahwa Dwi pernah diproses hukum karena memalsukan ijazah paket C. “Benar, di tahun 2012 dia terjerat kasus pemalsuan ijazah SMA. Saat itu dijatuhi vonis dua tahun penjara,” terang Andika, Rabu (27/8).

Berdasarkan catatan, Dwi yang kala itu menggunakan nama alias Feri adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.

Lewat bimbingan belajar miliknya, ia menawarkan jasa memasukkan calon mahasiswa ke FK Unissula dengan cara curang. Modusnya, mengubah ijazah dari IPS menjadi IPA hingga merekayasa nilai.

Lebih jauh, Dwi bahkan membanderol jasanya hingga ratusan juta rupiah. Dari Rp100 juta hingga Rp500 juta per calon mahasiswa. Ia juga memanfaatkan teknologi berupa jam tangan canggih yang bisa dipakai untuk mengirim SMS berisi jawaban tes.

Kasus ini terbongkar setelah surat kaleng sampai ke polisi. Hasil penyelidikan menemukan adanya stempel palsu, proposal rincian harga, hingga mobil yang dipakai untuk operasional.

Baca Juga: Istri Dwi Hartono, Andreana Wulandari jadi Sorotan! Dari Hidup Glamor, Jualan Baju Online, hingga Buron Polisi

Makelar Penerimaan Mahasiswa Baru

Wakil Rektor I Unissula, Andre Sugiono, menegaskan Dwi memang dikenal sebagai makelar penerimaan mahasiswa baru. “Dia memalsukan ijazah calon mahasiswa agar bisa masuk FK. Kasusnya sudah terungkap dan diproses hukum. Mahasiswa yang ijazahnya dipalsukan juga tidak jadi diterima,” kata Andre.

Ia menambahkan bahwa praktik curang itu sama sekali bukan bagian dari kebijakan kampus. “Itu murni kriminal pribadi, bukan delik akademik,” tegasnya.

Kini Terseret Kasus Besar

Setelah kasus lama itu, Dwi Hartono mencoba membangun citra baru sebagai pengusaha bimbingan belajar online dan dikenal dermawan dengan program Jumat Berkah. Namun topeng itu runtuh setelah ia kembali terseret kasus penculikan dan pembunuhan Ilham Pradipta.

Hingga kini, polisi masih mendalami motif di balik aksi kejahatan tersebut. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi menyebut penyidik belum bisa membeberkan alasan Dwi dan komplotannya merancang aksi sadis itu. “Masih dilakukan pendalaman,” ujarnya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#kasus pemalsuan ijazah #dwi hartono catatan kriminal #Kacab BRI Cempaka Putih