Inilah Diana Herawati, Ketua IIDI Kota Kediri yang Juga Kabag Prokopim Kabupaten Kediri

Emilia Susanti • Dipublikasikan Selasa, 12 Agustus 2025 | 19:18 WIB
Ketua IIDI Kota Kediri Diana Herawati.
Ketua IIDI Kota Kediri Diana Herawati.

Tidak mudah membagi waktu antara pekerjaan dan peran sebagai ibu rumah tangga. Apalagi, aktif juga di organisasi profesi. Namun, itu bisa dilakukan wanita ini dengan kunci membuat skala prioritas.

EMILIA SUSANTI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Tumpukan berkas memenuhi mejanya. Di sela-sela ada laptop berukuran 14 inchi yang dalam kondisi terbuka. Ada pula buku bersampul kuning, setebal 5 sentimeter tergeletak di meja yang sama. Buku berdimensi 15 x 20 meter itu bertuliskan Ikatan Istri Dokter Seluruh Indonesia di sampulnya.

Ya, sang pemilik meja itu adalah seorang istri dokter. Bahkan, merupakan ketua dari IIDI, organisasi istri para dokter, cabang Kota Kediri.

"Ini buku pedoman organisasi. Jadi kami di IIDI juga membantu program pemerintah dalam bidang sosial dan kesehatan," terang wanita bernama lengkap Diana Herawati Yudi ini.

Dalam kegiatannya sebagai ketua, Diana menjelaskan, setiap bulannya harus ada program yang dikerjakan.

Programnya pun beragam. Mulai dari pemberian tablet tambah darah, paket makanan sehat, hingga pemberian materi budi pekerti terhadap anak dan remaja. Selain itu, masih ada kegiatan bakti sosial (baksos) lainnya.

Namun, meja kerjanya yang penuh dengan berkas itu bukan tempat dia mengerjakan tugas sebagai ketua IIDI.

Melainkan meja sebagai salah seorang pejabat Pemkab Kediri. Wanita ini sehari–hari adalah kepala bagian protokol dan komunikasi pimpinan (kabag prokopim). Terbayang kesibukan wanita berusia 51 tahun ini?

"Saya mengalir saja. Berat memang, semua melihatnya juga pusing. Saya saja kadang juga pusing," canda wanita yang akrab dengan sapaan Diana ini.

Menurutnya, membuat skala prioritas adalah kunci untuk bisa menjalankan tugasnya itu. Jadi bergantung situasi dan kondisinya. Bila memang dalam jam kerja, dia akan fokus mengerjakan tugasnya sebagai kabag prokopim. Ya walaupun kenyataannya dia harus tetap menjalankan koordinasi di luar jam kerja.

Sementara, kegiatan-kegiatan di IIDI biasanya menyesuaikan waktu longgarnya. Biasanya dilakukan di hari Sabtu atau MInggu.

"Kalau dengan keluarga pastinya saya harus pintar-pintar membagi waktu. Mengalir sajalah. Pastinya saya punya skala prioritas agar semua bisa jalan," jelentreh ibu dua anak ini.

Uniknya, Diana memiliki rutinitas pagi yang sangat ditunggu-tunggu suami dan anak-anaknya. Adalah lauk tempe dan tahu yang harus digoreng oleh Diana sendiri. Itupun dilakukan setiap hari. Jika tidak tahu ya tempe. Atau kadang dua-duanya.

"Saya kalau masak yang berat nggak bisa, misal soto. Tetapi kalau membat sambal terasi, bawang, jangan bening, goreng tempe, tahu, itu bisalah. Mereka (suami dan anak, Red) paling suka kalau saya yang masak," cerita wanita yang menyukai olahraga renang ini.

Lebih dari itu, Diana terlihat tenang dan santai menjalani kesibukannya. Pasalnya, sulung dari lima bersaudara ini memang suka bekerja.

Dia pun mengaku tidak betah bila hanya berdiam diri di rumah. Bahkan ketika longgar, Diana akan bersih-bersih rumah. Khususnya kamar.

Mengulik lebih dalam, wanita asal Jambean, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri ini sudah mulai bekerja sejak usia 19 tahun. Atau sekitar 1993 silam. Kala itu, dia bekerja di Puskesmas Papar sebagai bidan.

Menjalani profesi ini, Diana memiliki pengalaman-pengalaman yang tak terlupakan. Pasalnya, banyak masyarakat yang meragukannya sebagai tenaga medis kala itu.

"Umur 19 tahun sudah jadi bidan. Yang melahirkan kebanyakan lebih tua, pasti banyak yang nggak percaya. Saat imunisasi, karena saya masih muda, jadi mungkin ada yang nggak percaya bidannya bisa nggak menyuntik," kenangnya sembari mengakui bila saat itu dia pernah merasa insecure kala itu.

Menurutnya, setiap pekerjaan akan memiliki tantangan sendiri-sendiri. Baik itu dari lingkungan kerja, pimpinan, atau lainnya. Bagaimanapun bentuk tantangan yang dihadapinya, Diana mengaku akan tetap bekerja. Pasalnya, dia memang suka bekerja.

"Pesan dari Bapak saya, perempuan harus bekerja. Harus bisa cari uang. Walaupun mungkin seraang dari suami sudah lebih dari cukup, saya tetap ingin bekerja. Karena saya ingin berguna. Gitu aja, simple," tekannya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
ketua idi kota kediri