JP Radar Kediri - Acara pesta rakyat dalam rangka memeriahkan pernikahan putra Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM dan Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina, berubah menjadi tragedi.
Ribuan warga yang hadir di area Pendopo Garut pada Jumat (18/7), tumpah ruah hingga terjadi kericuhan saat sesi hiburan dan makan gratis berlangsung.
Kericuhan tak terhindarkan ketika massa mulai berdesakan di pintu masuk Pendopo. Akibatnya, puluhan orang pingsan, dan tiga nyawa melayang dalam insiden memilukan tersebut.
Baca Juga: 9 Mahar Maula Akbar Anak Dedi Mulyadi Untuk Putri Karlina, Ada Hewan Hingga Tanaman?
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menyampaikan duka mendalam atas insiden ini.
Ia memastikan bahwa seluruh biaya pengobatan korban luka ditanggung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Garut.
“Semua biaya medis korban kami tanggung. Kami juga akan memberikan santunan bagi keluarga korban meninggal dunia,” tegasnya saat ditemui di Pendopo Garut.
Pemkab Garut pun memutuskan menghentikan seluruh rangkaian pesta rakyat setelah insiden terjadi.
Total korban tercatat sebanyak 26 orang. Dari jumlah tersebut, 3 orang meninggal dunia, dan 23 lainnya dirawat di rumah sakit. Beberapa korban sudah diperbolehkan pulang, sementara sisanya masih dalam pemantauan tim medis.
Baca Juga: Profil Putri Karlina, Menantu Dedi Mulyadi yang Ternyata Dokter Sekaligus Wabup Garut
Korban meninggal terdiri dari:
-
Vania Aprilia (8), warga Kelurahan Sukamentri, Garut Kota
-
Dewi Jubaeda (61), warga Garut
-
Bripka Cecep Saeful Bahri (39), anggota Polres Garut yang sedang bertugas di lokasi
Insiden ini terjadi karena antusiasme warga yang tinggi menghadiri panggung hiburan dan makan gratis yang disediakan panitia.
Menurut laporan petugas, sebagian besar korban mengalami sesak napas akibat kekurangan oksigen saat berdesak-desakan.
Baca Juga: Profil Putri Karlina, Menantu Dedi Mulyadi yang Ternyata Dokter Sekaligus Wabup Garut
Bupati Syakur menyebut, insiden ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.
Evaluasi menyeluruh akan dilakukan agar tidak ada kejadian serupa di masa mendatang, khususnya dalam acara yang melibatkan massa dalam jumlah besar.
“Kebanyakan korban adalah anak-anak dan ibu-ibu yang ikut berdesakan masuk ke area utama. Beberapa mengalami kekurangan oksigen karena padatnya kerumunan,” ujarnya.
Massa diketahui mulai memadati kawasan Alun-Alun dan Pendopo Garut sejak pagi.
Ketika agenda makan gratis dimulai, gerbang utama tidak mampu menampung laju warga yang terus berdatangan.
Tim pengamanan dari TNI, Polri, dan Satpol PP yang disiagakan langsung melakukan evakuasi darurat terhadap warga yang pingsan.
Sementara itu, Kepolisian Daerah Jawa Barat membenarkan bahwa salah satu korban jiwa adalah anggota mereka. Bripka Cecep Saeful Bahri meninggal dunia saat menjalankan tugas pengamanan di lokasi acara.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Cepat Tangani Kasus Perusakan Rumah di Sukabumi, Tegas Lakukan Ini!
Peristiwa ini menyisakan duka mendalam di tengah kemeriahan pesta pernikahan keluarga pejabat tinggi.
Di sisi lain, langkah cepat Pemkab Garut dalam menangani korban mendapat apresiasi, namun tekanan publik tetap tinggi agar perencanaan kegiatan massa ke depan lebih matang dan berorientasi pada keselamatan.
Pemerintah pusat dan Pemprov Jabar belum memberikan pernyataan resmi terkait kejadian ini.
Namun banyak pihak menyoroti pentingnya pengawasan yang lebih ketat terhadap acara publik berskala besar.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira