Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Anies Baswedan Sentil Pengeditan Sejarah, Jangan Hapus Sisi Gelap Bangsa!

Ilmidza Amalia Nadzira • Senin, 14 Juli 2025 | 21:22 WIB
Anies Baswedan.
Anies Baswedan.

JP Radar Kediri – Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali menjadi sorotan publik usai menyuarakan pendapat tajam soal isu penulisan ulang sejarah bangsa yang belakangan menuai polemik.

Dalam keterangannya, Anies meminta agar seluruh elemen bangsa tidak menjadikan sejarah sebagai alat politik sesaat.

Pernyataan itu ia sampaikan saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Gerakan Rakyat di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (13/7).

Di hadapan awak media, Anies menyampaikan bahwa sejarah adalah warisan penting bagi generasi mendatang, sehingga harus ditulis secara objektif dan utuh.

Baca Juga: Anies Baswedan Beri Motivasi Siswa SMA Dharma Wanita Boarding School yang Menginap di Pendapa Bersama Mas Dhito

“Bangsa manapun pasti memiliki masa keemasan, punya prestasi yang patut dibanggakan. Tapi juga ada sisi kelam yang tidak boleh ditutup-tutupi. Baik keberhasilan maupun kegagalan, semua itu bagian dari sejarah,” tegas Anies.

Menurut mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu, setiap peristiwa sejarah harus dicatat secara apa adanya.

Ia mengingatkan bahwa menyunting sejarah demi narasi politik sesaat justru bisa merusak kesadaran kolektif bangsa terhadap jati dirinya sendiri.

“Kita tidak boleh hanya memilih-milih bagian yang enak didengar. Sejarah itu lengkap. Ada yang menyakitkan, ada yang membanggakan. Tapi semua itu pelajaran penting bagi bangsa,” tambahnya.

Anies menyampaikan, penulisan sejarah seharusnya menjadi refleksi yang adil atas perjalanan suatu bangsa.

Ia bahkan mengaitkan pentingnya kejujuran dalam sejarah dengan kehidupan pribadi manusia.

Baca Juga: Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Berbagi Pengalaman kepada Wali Kota Kediri Vinanda

“Setiap orang punya fase bangkit dan terjatuh. Sama halnya dengan bangsa ini. Prestasi harus jadi kebanggaan. Tapi kekurangan harus jadi bahan koreksi. Jangan sampai sejarah malah dijadikan alat untuk menutupi kebenaran,” ujarnya.

Tokoh nasional yang kini juga aktif berdiskusi dengan berbagai kelompok masyarakat ini mengimbau agar para penulis, sejarawan, hingga pengambil kebijakan tidak bermain-main dengan fakta sejarah.

Ia menilai, kejujuran terhadap sejarah adalah bentuk tanggung jawab intelektual sekaligus moral terhadap generasi mendatang.

“Manusia juga begitu. Kadang berhasil, kadang frustrasi, kadang gagal. Tapi semua itu membentuk siapa diri kita. Bangsa juga begitu. Kalau sejarahnya diselewengkan, kita akan kehilangan arah,” pungkas Anies.

Baca Juga: Lahir di Kediri, Ini Sejarah Pagar Nusa yang Jadi Perguruan Pencak Silat Indonesia di Bawah Nahdlatul Ulama

Seperti diketahui, isu penulisan ulang sejarah kembali mencuat setelah muncul perdebatan di media sosial soal narasi sejarah dalam buku-buku pelajaran dan dokumen negara.

Sebagian kalangan akademik menyuarakan kekhawatiran terhadap upaya revisi yang dianggap bias dan beraroma politik.

Pernyataan Anies ini pun langsung ramai diperbincangkan. Banyak yang menilai, apa yang diungkapkan Anies menjadi peringatan penting agar bangsa ini tidak melupakan akar sejarahnya baik yang manis maupun yang pahit.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#anies baswedan #Sejarah Indonesia Baru