JP Radar Kediri - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, akhirnya angkat suara soal polemik bonus juara yang diberikan kepada Persib Bandung usai sukses menjuarai Liga 1 musim 2024/2025.
Ia menegaskan bahwa iuran dari para ASN Pemprov Jabar untuk bonus Persib bersifat sukarela dan tidak boleh menjadi beban bagi siapa pun.
Saat parade kemenangan Persib di bulan Mei lalu, Dedi yang akrab disapa KDM mengumumkan secara terbuka bahwa bonus total yang akan diberikan sebesar Rp 2 miliar.
Dari jumlah tersebut, Rp 1 miliar berasal dari kantong pribadinya, sementara sisanya diupayakan melalui patungan ASN Pemprov Jabar.
Namun, dalam kenyataannya, target Rp 1 miliar yang diharapkan dari ASN belum terpenuhi.
Baca Juga: Gagal Dapat Bonus Rp 1 M, Persib Bongkar Janji Manis Gubernur Jabar Dedi Mulyadi
Dana yang berhasil terkumpul hanya sekitar Rp 365 juta, dan hal itu sempat menimbulkan kekecewaan dari pihak Persib hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menolak bonus tersebut secara keseluruhan.
Menanggapi hal itu, Dedi menegaskan bahwa pengumpulan dana dari ASN bukan kewajiban, melainkan bentuk solidaritas dan apresiasi bersama.
“Memang ditargetkan Rp 1 miliar, tapi saya bilang dari awal: kalau tidak sanggup, ya jangan dipaksakan. Apalagi sampai mengambil dari sumber yang bukan haknya,” ujar Dedi.
Ia pun kembali menegaskan bahwa setiap sumbangan harus menyesuaikan kemampuan masing-masing individu.
Tidak ada unsur paksaan dan tidak boleh menjadi beban, baik secara moral maupun finansial.
Baca Juga: Mantan Pemain Persik Kediri dan Persib Bandung Ahmad Agung Gabung Borneo FC Samarinda
“Namanya juga sukarela. Kalau ada yang mau ikut ya alhamdulillah, kalau tidak ya tidak apa-apa. Kita ingin ini murni bentuk rasa cinta kepada Persib,” imbuhnya.
Sikap Dedi ini menjadi bentuk klarifikasi atas kegaduhan yang muncul setelah bonus yang diberikan tidak sesuai ekspektasi publik maupun janji yang sempat dilontarkan di hadapan ribuan Bobotoh.
Kini, meski semangat penghargaan sudah disampaikan, polemik soal bonus ini justru menjadi sorotan dan memunculkan pertanyaan, apakah janji publik tanpa perencanaan matang justru berujung pada blunder?
Meskipun sudah menyampaikan klarifikasi, banyak pihak menilai bahwa janji bonus Rp 2 miliar tersebut seharusnya diiringi dengan perencanaan yang matang, terutama karena diumumkan secara terbuka di momen publik yang sarat euforia.
Tak sedikit warganet yang mempertanyakan mengapa target sebesar itu dilontarkan tanpa skema pengumpulan dana yang jelas dan konkret.
Baca Juga: Manajemen Persik Kediri Resmi Melepas Hamra Hehanussa, Bakal Gabung Persib Bandung?
Di sisi lain, keputusan Persib untuk mengembalikan dana patungan ASN sebesar Rp 365 juta juga menuai pujian dari berbagai kalangan.
Banyak Bobotoh menganggap langkah tersebut menunjukkan integritas klub yang menjunjung tinggi transparansi dan tidak ingin mencederai kepercayaan pendukung.
“Lebih baik menolak daripada menerima janji yang tak utuh. Persib tunjukkan kelasnya!” tulis seorang warganet di kolom komentar media sosial.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira