Dalam tradisi Islam dan budaya Jawa, malam ini dianggap sakral karena dipercaya menjadi waktu terbaik untuk melakukan amalan khusus, tirakat, dan doa-doa tolak bala.
Tak heran, banyak masyarakat Jawa mengisi malam ini dengan beragam ibadah dan ritual untuk memohon keselamatan serta membersihkan diri dari energi negatif.
Rangkaian Amalan yang Dianjurkan
Ada beberapa amalan yang lazim dilakukan saat malam 1 Suro:
-
Muhasabah dan introspeksi diri
Merenung atas perbuatan di masa lalu dan memperbaiki niat di awal tahun baru Hijriah. -
Membaca Doa Akhir dan Awal Tahun
Doa akhir tahun dibaca sebelum Magrib pada 30 Dzulhijjah, sementara doa awal tahun dibaca usai Magrib pada 1 Muharram. -
Puasa Sunnah Muharram
Disarankan menjalankan puasa sunnah pada 1 Muharram, terutama menjelang hari Asyura (10 Muharram). -
Tirakat ala Jawa
Termasuk puasa mutih (hanya makan nasi putih dan air), tapa bisu (diam tanpa bicara), meditasi malam, dan ziarah kubur. -
Dzikir, wirid, dan sedekah
Memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur'an, salat sunnah hajat, dan bersedekah sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan. -
Tradisi mandi kembang dan minum susu putih
Dalam budaya Jawa, mandi kembang dipercaya membersihkan energi negatif, sementara susu putih dianggap simbol pembersih batin.
Doa Tolak Bala dan Awal Tahun
Salah satu bacaan yang dianjurkan pada malam 1 Suro adalah doa tolak bala, berisi permohonan agar dijauhkan dari marabahaya dan musibah sepanjang tahun.
Selain itu, doa awal tahun Hijriah yang populer dibaca berbunyi:
"Allahumma antal abadiyyul qadîmul awwal, wa 'ala fadhlika al-‘azhîm wa jûdika al-jazîl i’timâdî...”
Malam 1 Suro adalah momentum untuk menenangkan hati, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan menata ulang arah hidup di tahun yang baru.
Baik melalui amalan Islami maupun laku tirakat Jawa, esensinya tetap sama mencari keselamatan, ketentraman, dan keberkahan hidup.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira