Dosen Universitas Islam Tribakti Moh. Fikri Zulfikar mengingatkan bahwa buku dan teknologi digital harus berjalan seiringan. Karena zaman sekarang beda dengan waktu dulu. Ketika buku-buku yang ada diperpustakaan menjadi rujukan utama, sebagai referensi belajar.
"Tetapi hari ini dengan adanya perkembangan zaman, digital massif. Guru ya diwajibkan untuk mengolaborasikan antara buku dan digital," jelasnya.
Menurutnya, perkembangan digital ini membuat sumber belajar kian banyak dan bervariasi. Hanya saja ada beberapa hal yang patut diperhatikan. Pun perlu diwaspadai dalam menggunakan sumber belajar yang bersifat digital.
" Tidak semua artikel, konten, itu kredibel," ingatnya.
Bukan tanpa sebab dia mengatakan hal itu. Pasalnya, semua orang bisa menggunggah artikel atau konten video dengan bebas. Di sinilah tantangan dari pengajar. Harus pandai memilah apakah penulis artikel tersebut menulis sesuai bidang keahliannya atau tidak. Jikalau berbentuk video, apakah narasumber atau pemilik konten memang orang-orang yang kredibel.
"Jadi peran buku tetap tidak tergantikan," kata pria yang akrab disapa Fikri itu.
Lebih lanjut, dia menuturkan ada keunggulan tersendiri saat belajar dengan menggunakan buku. Pertama adalah terkurasi. Artinya buku tersebut sudah melalui proses editorial. Sehingga bisa dikatakan kredibel sebagai sumber belajar.
Tak kalah penting, Fikri menjelaskan bahwa negara-negara maju telah mengembalikan pembelajaran di sekolah dengan cara konvensional. Yaitu belajar dengan menggunakan buku cetak. Tujuannya tak hanya untuk akses membaca. Melainkan juga akses menulis.
"Ada banyak hal, terlebih ketika anak usia dini (PAUD sampai SD, Red), ketika sering menggunakan digital, membaca atau menulis, ya banyak yang dikorbankan. Salah satunya sensor motorik," ungkapnya.
Di sisi lain, dia berpendapat bahwa pembelajaran dengan buku akan meningkatkan fokus belajar. Pasalnya, banyak distraction pada gawai, tablet, atau sejenisnya. Entah itu karena ada notifikasi pesan atau media sosial.
"Banyak riset yang mengatakan bahwa membaca di layar itu membuat mata cepat lelah," tambahnya.
Kendati demikian, pembelajaran di era sekarang tidak bisa dikembalikan langsung ke cara-cara konvensional. Fikri menyebutnya tidak boleh alergi digital. Hanya saja, regulasi terkait penerapannya harus jelas. Misalnya dalam batasan penggunaan digital dalam pembelajaran.
"Hari ini sumber belajar melimpah. Tapi apakah sumber belajar ini berdampak, nah itu patut dipertanyakan. Bisa jadi ini tsunami sumber belajar sehingga peserta didik tidak sempat membaca," tandasnya.(*)
Editor : Jauhar Yohanis