JP Radar Kediri- Momen pertemuan Megawati Sukarno Putri dengan Presiden Prabowo akhirnya terjadi. Yakni saat upacara peringatan hari lahir Pancasila pagi tadi (2/6). Pada upacara tersebut terlihat Mega berjalan beriringan menuju arena upacara.
Sebelumnya tampak Prabowo berada di depan. Tetapi begitu dipersilakan menuju tempat upacara, Prabowo mempersilakan Megawati untuk berjalan di depan. Akhirnya mereka berjalan beriringan. Di belakangnya disusul oleh Gibran Rakabuming.
Pidato Prabowo
Dalam pidatonya, Prabowo tampak bersemangat dan berapi-api. Tersirat peringatan keras dan tegas terhadap para penggawa negara agar tidak main-main.
“Jangan anggap negara ini tidak ada. Jangan anggap NKRI bisa ditipu,” kata Prabowo dalam nada tinggi. “Mereka-mereka yang tidak setia kepada negara akan kita singkirkan tanpa memandang bulu.”
Tema peringatan tahun ini adalah “Memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya”. Bagi Prabowo, tema itu bukan sekadar ajakan seremonial, melainkan bentuk komitmen dalam menegakkan nilai-nilai dasar negara. Ia menyebut Pancasila sebagai satu-satunya jalan untuk menjaga persatuan dalam negara besar yang terdiri dari ribuan pulau dan ratusan kelompok etnis.
Tetapi di balik pujian terhadap Pancasila, Prabowo juga menyampaikan kegelisahan. Ia menyebut bahwa salah satu kelemahan utama bangsa ini justru bersumber dari mentalitas para elite—mereka yang dipercaya memegang mandat rakyat namun justru menyelewengkan kepercayaan itu.
“Saya melihat masih terlalu banyak korupsi, manipulasi, dan penyelewengan. Itu justru terjadi di tubuh pemerintahan, di tubuh kekuasaan,” ujarnya lantang.
Di tengah sorotan publik terhadap sejumlah kasus hukum dan perdebatan etika di parlemen, Prabowo menjadikan podium hari itu sebagai panggung peringatan. Ia mengingatkan para pejabat: mundur sebelum diberhentikan jika tak mampu menjalankan tugas. Pesannya tajam dan tak menyisakan ruang untuk interpretasi lunak.
“Kalau tidak mampu, jangan masuk ke pemerintahan. Kalau tidak mau mengabdi kepada rakyat, jangan mau menerima mandat dari rakyat,” ujarnya.
Presiden juga menyinggung pengaruh asing yang selama ini, menurutnya, kerap menjadi aktor di balik perpecahan internal bangsa. Ia menyebut adanya LSM yang dibiayai kekuatan luar, menyebarkan isu-isu hak asasi manusia dan demokrasi dalam versi yang diklaim sepihak.
“Ratusan tahun mereka datang, ratusan tahun mereka adu domba kita,” kata Prabowo. “Sekarang pun, mereka membiayai LSM-LSM untuk mengadu domba.”
Namun ia menegaskan bahwa seruan ini bukan ajakan untuk mencurigai bangsa lain, melainkan peringatan agar Indonesia tidak lagi dipermainkan oleh siapa pun. “Bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri,” katanya, mengutip ajaran Bung Karno.
Pesan Prabowo juga menyentuh generasi muda. Ia menyebutkan bahwa perjuangan melawan korupsi dan penyelewengan adalah warisan yang sedang dipersiapkan untuk anak-anak dan cucu bangsa. Ia meminta generasi muda untuk aktif, kritis, dan tidak ragu melaporkan setiap penyimpangan yang terlihat di lapangan.
“Sekarang kita punya teknologi. Setiap rakyat bisa gunakan gadget. Kalau ada bukti pelanggaran, segera siarkan,” ujar Prabowo, menyiratkan seruan transparansi dari bawah ke atas.
Di akhir pidatonya, Presiden menyampaikan harapan besar: Indonesia sebagai negara kuat, kaya, dan sejahtera. Ia yakin, kebangkitan nasional tinggal menghitung tahun, selama korupsi bisa ditertibkan dan bangsa tetap bersatu.(*)
Editor : Jauhar Yohanis