JP Radar Kediri - Fahri Hamzah Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah aksinya naik ojek online (ojol) viral di media sosial. Peristiwa ini terjadi beberapa hari lalu (28/5), ketika Fahri memilih menggunakan ojol untuk menembus kemacetan Jakarta yang parah.
Video yang menunjukkan dirinya turun dari motor ojol tanpa mengenakan helm diunggah oleh akun Instagram @sejakarta.id dan segera menjadi bahan perbincangan.
Saat itu, Fahri sedang dalam perjalanan dari kantornya di Direktorat Jenderal Kawasan Permukiman & Direktorat Jenderal Tata Kelola dan Pengendalian Risiko di Kebayoran Baru menuju kantor Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, di Jakarta Pusat.
Kemacetan yang luar biasa membuatnya terjebak selama dua jam, sehingga ia memutuskan untuk naik ojol yang dipesankan oleh stafnya agar bisa tiba tepat waktu.
Dalam video yang beredar, Fahri terlihat mengenakan kemeja batik cokelat dan topi biru berlambang Garuda saat turun dari motor ojol. Namun, yang menjadi perhatian publik adalah fakta bahwa ia tidak mengenakan helm, meskipun helm ojol terlihat tergeletak di motor. Saat dikonfirmasi, Fahri mengakui bahwa pria dalam video itu adalah dirinya dan menjelaskan bahwa ia dijemput dalam keadaan seperti itu.
Aksi Fahri naik ojol tanpa helm menuai berbagai reaksi dari masyarakat. Beberapa orang mengapresiasi langkahnya yang dianggap merakyat, sementara yang lain mengkritik karena tidak mematuhi aturan keselamatan berkendara. Selain itu, muncul tudingan bahwa tindakan ini adalah bagian dari pencitraan, mengingat video tersebut diambil oleh staf khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Menanggapi kritik tersebut, Fahri dengan santai menepis tudingan pencitraan. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki kepentingan untuk melakukan hal tersebut dan bahwa video itu bukan diambil olehnya sendiri.
“Aya-aya wae. Lagipula saya enggak punya kepentingan. (Orang) yang videoin bukan saya, ngapain juga (pencitraan),” ujarnya.
Meskipun awalnya tidak memberikan alasan spesifik mengapa ia tidak mengenakan helm, Fahri akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada publik. Ia menyatakan bahwa situasi saat itu membuatnya harus segera berpindah kendaraan tanpa sempat memperhatikan aspek keselamatan secara menyeluruh.
Aksi ini menjadi contoh bagaimana seorang pejabat publik bisa menjadi pusat perhatian hanya karena keputusan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Di satu sisi, tindakan Fahri menunjukkan bahwa pejabat tinggi pun bisa mengalami kendala yang sama dengan masyarakat umum, seperti kemacetan Jakarta yang tak kunjung terurai. Namun, di sisi lain, insiden ini juga mengingatkan pentingnya mematuhi aturan keselamatan berkendara, terutama bagi figur publik yang menjadi panutan masyarakat.
Penulis: Laila Karima
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira