JP Radar Kediri – Kekhawatiran akan kembalinya ancaman kesehatan masyarakat mencuat dalam Rapat Koordinasi Virtual yang digelar Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Jumat (30/5).
Rapat yang berlangsung secara daring ini melibatkan seluruh jajaran kesehatan, mulai dari Kepala Dinas Kesehatan kabupaten/kota, direktur rumah sakit rujukan, hingga mitra strategis seperti UNICEF dan perwakilan Kementerian Kesehatan.
Fokus utama pertemuan ini adalah meningkatnya kewaspadaan terhadap dua penyakit menular yang kembali mencuat: COVID-19 dan polio.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah yang memimpin jalannya rakor menegaskan pentingnya kesiapsiagaan semua lini dalam menghadapi potensi lonjakan kasus COVID-19.
Ia mengingatkan bahwa sejumlah negara tetangga mulai mencatat peningkatan kasus yang signifikan, dan Indonesia tak bisa tinggal diam.
Semua fasilitas kesehatan diminta untuk bersiaga, memperkuat sistem deteksi dini, dan memastikan kesiapan alat serta tenaga medis.
Ia juga meminta agar distribusi informasi ke masyarakat ditingkatkan, guna menghindari kepanikan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya protokol kesehatan.
Tidak hanya COVID-19, perhatian besar juga diberikan pada merebaknya kembali kasus polio di sejumlah wilayah Indonesia.
Penyakit yang sempat dinyatakan eliminasi itu kini kembali menjadi ancaman, terutama bagi anak-anak yang belum mendapat imunisasi lengkap.
Dalam kesempatan itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sulteng, Jumriani, menjelaskan bahwa pihaknya menargetkan imunisasi massal dalam program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio yang akan digelar dalam waktu dekat.
Program imunisasi ini ditujukan untuk anak usia 0 hingga 7 tahun dan akan dilaksanakan serentak di 13 kabupaten/kota di wilayah Sulawesi Tengah.
Jumlah anak yang menjadi sasaran imunisasi mencapai 434.587 jiwa.
Imunisasi ini penting bukan hanya untuk perlindungan pribadi, tapi juga untuk mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) di masa depan.
Dinas Kesehatan Provinsi mengimbau para orang tua agar tidak ragu memanfaatkan layanan imunisasi yang diberikan secara gratis. Ia juga menekankan bahwa imunisasi ini menggunakan vaksin yang sudah teruji keamanannya dan telah disetujui oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Masyarakat diharapkan berperan aktif, tidak hanya dengan membawa anak-anak ke pos imunisasi, tetapi juga ikut menyebarkan informasi positif tentang manfaat imunisasi ke lingkungan sekitar.
Selain membahas teknis pelaksanaan PIN dan kesiapan menghadapi COVID-19, rakor ini juga dijadikan ajang untuk mengevaluasi sistem pelaporan, ketersediaan logistik vaksin, hingga pemetaan daerah dengan risiko tinggi.
Wakil Gubernur menambahkan bahwa penanganan kesehatan masyarakat tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
Sinergi antarinstansi, dukungan dari pemerintah pusat, dan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama agar upaya ini berhasil.
Dengan rapat ini, diharapkan seluruh stakeholder kesehatan di Sulawesi Tengah dapat satu frekuensi dalam mengambil langkah cepat, tepat, dan terukur.
Pemerintah provinsi juga berkomitmen untuk terus memantau perkembangan situasi di lapangan dan akan memberikan dukungan penuh untuk memastikan dua ancaman ini bisa dikendalikan sedini mungkin.
Semangat gotong royong dan kepedulian sosial menjadi landasan utama untuk menjaga generasi masa depan tetap sehat dan aman dari ancaman penyakit menular.
Melalui upaya bersama, diharapkan Sulteng bisa kembali menjadi daerah yang bebas dari polio dan mampu menghadapi potensi gelombang baru COVID-19 dengan lebih siap dan tangguh.
Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Politeknik Negeri Madiun (PNM)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira