JP Radar Kediri – Belakangan ini masyarakat sering dihadapkan dengan cuaca yang sulit ditebak.
Saat siang hari, matahari bersinar terik dan suhu udara terasa menyengat.
Namun tak berselang lama, mendung datang tiba-tiba dan hujan deras mengguyur pada sore atau malam hari.
Tidak sedikit warga yang dibuat repot oleh kondisi ini, terutama yang beraktivitas di luar rumah.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena ini sangat umum terjadi pada masa peralihan musim atau pancaroba.
Yakni transisi dari musim penghujan ke musim kemarau.
Dalam fase ini, atmosfer berada dalam kondisi tidak stabil, sehingga cuaca berubah secara cepat dan ekstrem.
“Pagi hingga siang cenderung cerah karena sinar matahari langsung memanaskan permukaan bumi. Suhu udara naik drastis hingga di atas 33 derajat Celcius. Pemanasan ini memicu penguapan tinggi, terutama dari permukaan tanah, air, dan tumbuhan,” jelas Deputi Bidang Meteorologi BMKG.
Kondisi panas yang ekstrem itu memicu naiknya uap air ke lapisan atmosfer.
Jika kondisi udara atas cukup lembap, terbentuklah awan konvektif, seperti Cumulonimbus.
Awan inilah yang kerap menjadi penyebab utama hujan deras, petir menyambar, angin kencang, hingga hujan es di beberapa lokasi.
BMKG menyebut, dinamika lokal seperti kelembapan udara, arah angin, dan topografi juga memperkuat kondisi tersebut.
Karena itu, hujan bisa sangat deras di satu wilayah namun tetap panas dan cerah di wilayah sekitarnya.
Bahkan tak jarang, hujan deras terjadi dalam waktu yang sangat singkat tapi cukup menimbulkan dampak.
Kondisi ini juga sering memicu bencana hidrometeorologi skala kecil.
Pohon tumbang, genangan air di permukiman padat, hingga terganggunya jaringan listrik akibat sambaran petir menjadi hal yang tak jarang ditemukan.
“Karena itu, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat cuaca terlihat mulai mendung di sore hari,” lanjut BMKG.
Tak hanya mengganggu aktivitas, perubahan cuaca yang mendadak juga berdampak pada kesehatan.
Perubahan suhu ekstrem antara siang dan malam bisa memicu penyakit, seperti flu, batuk, hingga demam.
Anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki penyakit bawaan perlu menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah sakit.
BMKG juga menyarankan agar warga memperhatikan prakiraan cuaca harian, terutama mereka yang bekerja di sektor informal, seperti pedagang kaki lima, pengemudi ojek daring, hingga petani.
Menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca bisa mengurangi risiko kecelakaan maupun kerugian akibat hujan mendadak.
Musim pancaroba ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal kemarau.
Sementara itu, puncak kemarau sendiri diprediksi terjadi sekitar Juni hingga Agustus 2025.
Namun selama masa transisi ini, kondisi cuaca masih fluktuatif dan perlu diantisipasi.
Sebagai langkah antisipasi, warga diimbau tidak berteduh di bawah pohon saat hujan lebat disertai petir.
Saluran air juga sebaiknya dibersihkan secara berkala agar tidak terjadi sumbatan saat hujan deras turun.
Pemerintah daerah dan warga perlu bergotong-royong menjaga lingkungan untuk meminimalisasi dampak dari cuaca ekstrem ini.
Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Politeknik Negeri Madiun (PNM)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira