Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Apa Itu Kemarau Basah? Fenomena Tidak Biasa yang Kini Terjadi di Indonesia

Ilmidza Amalia Nadzira • Jumat, 23 Mei 2025 | 21:17 WIB

Apa Itu Kemarau Basah Fenomena Alam yang Kini Terjadi di Indonesia  JP Radar Kediri – Indonesia saat ini sudah memasuki musim kemarau. Namun, hujan yang tak kunjung berhenti turun disejumlah wilayah d
Apa Itu Kemarau Basah Fenomena Alam yang Kini Terjadi di Indonesia JP Radar Kediri – Indonesia saat ini sudah memasuki musim kemarau. Namun, hujan yang tak kunjung berhenti turun disejumlah wilayah d
 JP Radar Kediri – Indonesia saat ini sudah memasuki musim kemarau. Namun, hujan yang tak kunjung berhenti turun disejumlah wilayah di Indonesia membuat masyarakat bertanya-tanya.

Langit yang mendung hampir setiap hari, gerimis yang turun tanpa permisi di tengah siang bolong, hingga suara rintik hujan yang menyapa genting saat malam tiba. semua ini menjadi pemandangan yang cukup membingungkan di tengah musim yang seharusnya kering.

Ya, Indonesia kini sedang menghadapi fenomena alam yang oleh para ahli disebut sebagai kemarau basah, sebuah kondisi unik di mana musim kemarau tidak lagi identik dengan cuaca panas dan langit cerah, melainkan justru tetap disertai turunnya hujan dengan frekuensi yang tidak sedikit.

Fenomena kemarau basah ini mulai terasa sejak awal Mei lalu, saat banyak daerah yang biasanya sudah memasuki masa-masa kering, justru masih dibasahi hujan deras.

Bahkan di beberapa wilayah, curah hujan yang tercatat terbilang cukup tinggi, hingga menyebabkan genangan di area persawahan, permukiman, dan fasilitas umum.

Sebenarnya musim apa yang sedang berlangsung saat ini? Mengapa cuaca tidak menentu, dan hujan masih turun padahal seharusnya kemarau?

Dikutip dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Deputi Bidang BMKG Guswanto, mengatakan fenomena kemarau basah yang terjadi di Indonesia dipicu oleh berbagai faktor atmosfer dan perubahan iklim yang memengaruhi pola cuaca di Indonesia.

"Kemarau basah adalah fenomena tidak biasa yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perubahan iklim dan pola cuaca yang tidak stabil," ujar Guswanto.

 Baca Juga: Intervensi Musim di Indonesia Makin Tinggi, 2025 Hadapi Transisi Kemarau yang Unik

Dalam konteks iklim tropis seperti Indonesia, kemarau basah merupakan kondisi yang cukup jarang terjadi, namun bukan hal yang mustahil.

Menghangatnya suhu permukaan laut di sekitar wilayah Indonesia, seperti Laut Jawa, Laut Banda, dan Samudera Hindia juga menjadi salah satu penyebab terjadinya kemarau basah di Indonesia.

Ketika suhu laut meningkat, proses penguapan pun ikut meningkat, menyebabkan terbentuknya awan-awan hujan meskipun secara kalender kita sedang berada di musim kemarau.

Selain itu, kemarau basah juga kerap kali terkait dengan gangguan iklim berskala global seperti La Nina atau perubahan sirkulasi angin di atmosfer.

 

Angin yang seharusnya membawa udara kering dari Australia ke Indonesia menjadi terganggu, digantikan oleh angin lembab dari Samudera Pasifik yang membawa hujan. Hasilnya, alih-alih kering dan gersang, wilayah Indonesia justru terus-menerus diguyur hujan dalam waktu yang tidak biasa.

Di daerah pertanian seperti Kediri dan sekitarnya, kondisi ini membawa dampak yang cukup signifikan. Petani yang telah bersiap memulai musim tanam palawija, seperti jagung dan kedelai yang membutuhkan tanah kering, kini harus menunda kegiatan mereka.

Tanah yang basah dan becek tidak hanya menyulitkan proses tanam, tetapi juga meningkatkan risiko tanaman busuk akibat kelembapan berlebih.

Di sisi lain, masyarakat kota juga harus lebih waspada terhadap potensi genangan air dan penyakit tropis seperti demam berdarah, yang cenderung meningkat saat kelembapan udara tinggi.

Fenomena kemarau basah ini seolah menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa iklim dan cuaca bukanlah sesuatu yang bisa ditebak hanya dengan membaca kalender atau mengandalkan pola lama.

Perubahan iklim yang kini terjadi secara global membuat segala sesuatunya menjadi lebih dinamis, lebih cepat berubah, dan sering kali tidak sesuai dengan ekspektasi. Dalam situasi seperti ini, kemampuan untuk membaca tanda-tanda alam, memperhatikan prakiraan cuaca, dan menyesuaikan diri dengan perubahan menjadi hal yang sangat penting.

Meski terdengar kontradiktif, kemarau basah bukan berarti bencana, melainkan tanda bahwa sistem iklim bumi sedang mengalami penyesuaian.

Dalam banyak hal, fenomena ini justru bisa membawa berkah. Misalnya untuk daerah yang selama ini kekurangan air. Namun, tanpa kesiapan dan adaptasi, potensi dampak negatifnya pun tak bisa dianggap remeh.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan tidak menganggap remeh perubahan cuaca yang terjadi.

Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #berita #kemarau #hujan #kemarau basah #perubahan iklim #hari #fenomena alam #Ini