Delapan Jenazah Korban Banjir Bandang Arfak Berhasil Diidentifikasi, Tim DVI Terus Bergerak

Internship Radar Kediri • Dipublikasikan Jumat, 23 Mei 2025 | 20:11 WIB
Kepala Biddokes Polda Papua Barat Kombes Pol dr Iskandar saat ditemui awak media di Manokwari
Kepala Biddokes Polda Papua Barat Kombes Pol dr Iskandar saat ditemui awak media di Manokwari

JP Radar Kediri - Dalam tragedi banjir bandang dan tanah longsor yang mengguncang wilayah Pegunungan Arfak, khususnya di Distrik Catubouw, upaya kemanusiaan terus berlangsung di tengah kondisi yang penuh tantangan. Salah satu elemen penting dalam penanganan bencana ini adalah identifikasi korban jiwa, yang dilakukan secara intensif oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) dari Biddokkes Polda Papua Barat.

Peristiwa memilukan ini menelan puluhan korban jiwa dan merenggut harapan banyak keluarga. Dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat, 23 Mei 2025, Kepala Biddokes Polda Papua Barat, Kombes Pol dr. Iskandar, menyampaikan bahwa delapan dari 14 jenazah yang berhasil ditemukan telah berhasil diidentifikasi secara resmi oleh timnya.

Identifikasi jenazah bukanlah tugas yang mudah, terlebih ketika tubuh korban telah mengalami pembusukan atau tertimbun material longsor selama berhari-hari. Proses ini memerlukan ketelitian tinggi, serta koordinasi erat antara tim DVI, keluarga korban, dan berbagai pihak pendukung.

Pada Senin (19/5) ada lima jenazah pertama yang berhasil diidentifikasi. Yakni Yoseph Ermilianus Efrem, Porman Takaliumang, Okden Wote, Joni Rahawari, dan Oce Takaliumang.

Semua jenazah ini langsung diserahkan kepada keluarga setelah identifikasi selesai. Suasana haru menyelimuti proses penyerahan tersebut, menyisakan air mata dan pelukan penuh duka.

Kemudian, dua hari setelahnya di Kamis (21/5), dua jenazah lagi berhasil dikenali sebagai Laurensius Denilson Armanto dan George Takaliumang. Mereka pun segera diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan secara layak.

Namun, satu jenazah atas nama Harispen Tampil hingga kini masih belum diambil keluarganya. Pihak kepolisian mengimbau keluarga korban untuk segera menghubungi tim DVI guna proses lebih lanjut.

Selain delapan yang telah diidentifikasi, enam jenazah lainnya telah melalui tahap awal identifikasi. Namun, sesuai prosedur, nama-nama mereka belum diumumkan secara resmi karena menunggu gelar rekonsiliasi antara data antemortem (data korban sebelum meninggal seperti rekam medis, DNA, sidik jari, dll.) dan postmortem (data yang diambil dari jenazah). Gelar ini bertujuan memastikan tidak ada kesalahan dalam penetapan identitas, sebuah prinsip utama dalam identifikasi korban massal.

Menurut Kepala Basarnas Manokwari, Yefri Sabaruddin, total korban bencana ini berjumlah 24 orang. Dari jumlah tersebut, empat orang berhasil selamat, satu korban ditemukan meninggal dunia lebih awal atas nama Harun Maidodga, dan 19 lainnya dinyatakan hilang pada tahap awal pencarian.

Hingga Kamis (22/5) sebanyak 15 jenazah telah ditemukan dan dievakuasi, menyisakan empat korban yang hingga kini masih dalam proses pencarian. Operasi pencarian melibatkan Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan masyarakat yang bahu membahu menyisir area terdampak yang terjal dan licin.

Kombes Iskandar menegaskan bahwa proses identifikasi ini bukan hanya kewajiban hukum, tetapi juga bagian dari penghormatan terhadap para korban dan keluarganya. “Kami berkomitmen memberikan kepastian identitas secepat dan setepat mungkin. Ini bukan hanya soal prosedur, ini tentang memberikan kedamaian bagi keluarga yang kehilangan,” ujar Iskandar.

Meski medan sulit dan cuaca tak bersahabat sering kali menghambat proses evakuasi maupun identifikasi, Tim DVI tetap menunjukkan dedikasi luar biasa. Mereka bekerja tanpa mengenal lelah, bahkan saat kondisi fisik dan mental sangat diuji.

Bencana di Pegunungan Arfak meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Papua Barat. Namun, di balik tragedi itu, terpatri juga semangat gotong royong, solidaritas, dan komitmen kemanusiaan yang tinggi dari semua pihak.

Upaya identifikasi oleh Tim DVI menjadi bukti nyata bahwa negara hadir untuk warganya, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun. Kini, harapan tinggal tertumpu pada upaya pencarian sisa korban, agar setiap keluarga yang kehilangan dapat memperoleh kepastian dan menutup bab duka dengan tenang.

Penulis: Laila Karima

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.  

 

 
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
bergerak banjir jenazah Berhasil arfak korban banjir