JP Radar Kediri – Sosok Bimo Wijayanto tengah jadi perbincangan hangat publik setelah namanya santer disebut-sebut bakal menduduki posisi penting sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak menggantikan Suryo Utomo.
Pria kelahiran Ngada, Nusa Tenggara Timur, ini dipanggil Presiden Prabowo Subianto ke Istana Merdeka pada Selasa (20/5), menguatkan kabar penunjukannya.
Langkah ini dinilai sebagai sinyal awal dari reformasi birokrasi yang mulai digagas pemerintahan baru.
Bimo dikenal luas sebagai figur yang memiliki rekam jejak kuat di bidang ekonomi dan perpajakan.
Dengan latar belakang akademik dan pengalaman kerja yang mumpuni, ia diharapkan mampu membawa penyegaran dalam tubuh Direktorat Jenderal Pajak.
Bimo adalah alumni SMA Taruna Nusantara angkatan 1995. Ia kemudian menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus dengan gelar Sarjana Ekonomi Akuntansi tahun 2000.
Tak berhenti di situ, Bimo memperdalam ilmunya hingga meraih gelar MBA di University of Queensland, Australia, lalu meraih gelar doktor (Ph.D.) di bidang Ekonomi dari University of Canberra.
Bahkan, ia sempat menjalani program post-doctoral di Duke University, Amerika Serikat.
Kariernya pun tak kalah cemerlang. Ia pernah menjadi Analis Senior di Direktorat Jenderal Pajak dan dipercaya sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP) di era pemerintahan Joko Widodo.
Terakhir, ia menjabat di Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi sebagai Sekretaris Deputi bidang Kerjasama Ekonomi dan Investasi.
Kepada media, Bimo menyebut dirinya diberi mandat langsung oleh Presiden Prabowo untuk mengamankan penerimaan negara dan mempercepat modernisasi sistem administrasi perpajakan.
Ini termasuk memperbaiki pelayanan pajak berbasis digital serta memastikan kepatuhan para wajib pajak melalui pendekatan yang lebih humanis namun tegas.
“Presiden menginginkan sistem pajak yang efisien, adil, dan mampu menjawab tantangan ekonomi ke depan,” ujar Bimo usai pertemuan dengan Presiden.
Dalam laporan LHKPN terakhirnya pada 2019, Bimo tercatat memiliki harta kekayaan sebesar Rp5,9 miliar.
Angka yang relatif bersih untuk ukuran pejabat negara ini dinilai mencerminkan gaya hidup sederhana dan integritas tinggi.
Di tengah upaya pemerintah menutup celah kebocoran penerimaan negara, sosok seperti Bimo menjadi harapan baru.
Dengan pengalaman teknokratis yang kuat serta kemampuan komunikasi lintas sektor, publik berharap ia mampu memperbaiki citra otoritas pajak yang selama ini kerap diwarnai isu negatif.
Langkah Bimo ke kursi Dirjen Pajak ini juga disebut sebagai bentuk regenerasi dalam birokrasi fiskal nasional.
Tak sedikit pihak yang menyambut baik kehadiran tokoh muda berintegritas dalam jajaran pucuk pimpinan Kementerian Keuangan.
Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Politeknik Negeri Madiun (PNM)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira