JP Radar Kediri – Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) resmi menjatuhkan sanksi kepada Indonesia buntut dari insiden ujaran bernada xenophobia yang dilakukan sejumlah suporter saat laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Timnas Bahrain.
Pertandingan yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada 25 Maret 2025 tersebut kini berbuntut panjang, menyusul adanya tindakan diskriminatif yang mencoreng citra sepak bola nasional di mata dunia.
Menurut laporan resmi dari FIFA, sekitar 200 pendukung yang menempati sektor 19 tribun utara dan selatan terpantau melontarkan teriakan berisi ujaran kebencian yang dianggap melanggar nilai-nilai sportivitas dan inklusivitas yang dijunjung tinggi oleh badan sepak bola dunia tersebut.
Tindakan tersebut dinilai tidak hanya mencederai semangat fair play, tetapi juga melanggar kode etik dan peraturan disipliner FIFA.
Baca Juga: Timnas U-17 Resmi Tereleminasi, Ini Dia Klasemen Terbaru Semifinal Piala Asia U-17 2025
Sebagai konsekuensinya, FIFA menjatuhkan sanksi denda kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dengan nominal mencapai lebih dari Rp 400 juta.
Tak hanya itu, FIFA juga memberlakukan pembatasan jumlah penonton pada laga kandang Indonesia berikutnya dalam ajang kualifikasi, yakni saat menjamu Tiongkok pada 6 Juni 2025 mendatang.
Kapasitas di tribun yang terlibat pelanggaran akan dikurangi sebesar 15 persen, sebagai bentuk hukuman sekaligus langkah preventif untuk mencegah kejadian serupa.
Selain sanksi finansial dan pembatasan penonton, PSSI juga diwajibkan memenuhi sejumlah kewajiban tambahan.
Di antaranya adalah menyusun dan menyerahkan peta tempat duduk di stadion kepada FIFA selambat-lambatnya 10 hari sebelum pertandingan berlangsung.
FIFA juga mewajibkan pemasangan spanduk atau banner bertema anti-diskriminasi selama pertandingan sebagai bentuk kampanye edukatif kepada publik.
Tak berhenti sampai di situ, PSSI juga diminta untuk menyusun rencana aksi yang bersifat komprehensif guna memerangi segala bentuk diskriminasi, baik rasial, etnis, maupun nasionalisme sempit, di seluruh jenjang sepak bola nasional.
Sebagai solusi tambahan, FIFA juga mendorong agar kursi penonton yang terdampak pengurangan diisi oleh kelompok-kelompok khusus seperti komunitas anti-diskriminasi, pelajar, perempuan, hingga keluarga, agar tercipta suasana yang lebih positif dan inklusif di dalam stadion.
Sanksi ini menjadi peringatan keras bagi seluruh elemen sepak bola di Indonesia, baik federasi, klub, hingga para pendukung, untuk lebih menjaga sikap dan perilaku selama mendukung tim kesayangan mereka.
Sepak bola seharusnya menjadi ajang pemersatu, bukan alat untuk menebar kebencian.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira