JawaPos.com – Musim hujan kerap membawa suasana adem dan menenangkan. Namun, bagi para penggemar burung kicau, khususnya pemilik murai batu, musim ini justru jadi tantangan tersendiri.
Udara dingin dan kelembapan tinggi bisa membuat murai drop, malas bunyi, bahkan sakit. Salah satu cara jitu untuk menjaga kesehatan dan performa burung adalah pemberian Extra Fooding alias EF secara tepat.
EF merupakan pakan tambahan yang diberikan selain voer. Contohnya antara lain jangkrik, kroto, ulat hongkong, ulat kandang, hingga belalang. Meski tampak sepele, EF punya peran krusial, terutama saat cuaca tidak bersahabat.
“Udara dingin bikin daya tahan tubuh murai menurun. Lewat EF yang kaya protein, kita bisa bantu tingkatkan imunitas burung,” ujar Andri, salah satu kicau mania asal Sidoarjo yang sudah puluhan kali menjuarai kontes murai batu.
Dalam akun Facebooknya, Andri menjelasakan bahwa selain menjaga stamina, EF juga berperan sebagai penyeimbang mood.
Tak sedikit murai batu yang jadi pendiam, stres, hingga malas bunyi saat hujan turun berhari-hari. Beberapa bahkan mengalami over stres hingga mencabuti bulu sendiri. Dengan EF yang tepat, kondisi mental burung bisa tetap stabil.
EF juga penting untuk menjaga kestabilan birahi. Cuaca dingin bisa menurunkan birahi, sementara kelembapan tinggi justru bisa meningkatkannya secara ekstrem.
Keduanya bisa mengganggu performa saat lomba. “Kalau over birahi, burung bisa jadi terlalu galak dan nggak fokus di gantangan,” lanjut Andri.
Namun, pemberian EF tidak bisa sembarangan. Kunci utamanya adalah takaran dan konsistensi. Jangkrik, misalnya, idealnya diberikan 5 ekor pagi dan 5 ekor sore. Kroto cukup 2–3 kali seminggu. Sedangkan ulat hongkong sebaiknya diberikan sedikit saja karena bersifat panas.
“Kalau over, bisa bikin murai nyulam alias gagal mabung. Jadi memang harus kenali karakter masing-masing burung,” jelasnya.
Kualitas EF juga tak kalah penting. Jangan pernah memberikan jangkrik yang lemas atau kroto yang sudah basi. EF yang tidak segar justru bisa membawa bakteri dan membahayakan kesehatan murai.
Untuk murai yang sedang mabung, EF punya fungsi tambahan sebagai penunjang pertumbuhan bulu. Kandungan protein dan lemak dari EF membantu bulu tumbuh lebih cepat, lebat, dan mengilap. Tapi lagi-lagi, jumlah dan frekuensinya harus diperhitungkan.
Tak sedikit juga murai yang jadi lebih pendiam saat musim hujan. Hal ini bukan selalu tanda sakit, tapi bisa jadi bentuk adaptasi terhadap cuaca. Dengan EF yang rutin, burung akan lebih cepat kembali ke performa terbaiknya.
Hujan yang turun setiap hari kerap membuat pemilik jadi malas menjemur atau lupa memberikan EF. “Justru di musim seperti ini, kita harus lebih perhatian. Jangan sampai EF bolong atau kandang jadi kotor,” pesan Andri.
Secara umum, EF juga turut menjaga kualitas suara murai. Udara lembap bisa bikin suara jadi kurang jernih. Nutrisi dari EF membantu menjaga suara tetap nyaring dan bertenaga. Untuk variasi, bisa sesekali diberi ulat bambu atau belalang kecil, namun tetap perhatikan respons burung terhadap pakan tersebut.
Pada akhirnya, perawatan murai batu bukan sekadar soal persiapan lomba, tapi bentuk kepedulian dan tanggung jawab pemilik. Musim hujan adalah momen pembuktian. Dengan EF yang tepat, murai bisa tetap sehat, gacor, dan siap tampil kapan saja.
“Rawat murai itu soal hati. Kalau kita telaten, hasilnya pasti memuaskan,” pungkasnya.
Editor : Jauhar Yohanis