JP Radar Kediri – Transportasi jalur laut yang sering kali kita gunakan untuk berpergian hingga kebutuhan dagang adalah hal yang sudah kita kenal sejak jaman dahulu.
Sebelum adanya pesawat, kapal atau perahu menjadi transportasi jalur air yang sudah sangat sering kita gunakan baik dimasa lampau sampai saat ini. Dampak yang diberikan oleh transportasi ini sangat besar mulai dari segi politik hingga perekonomian suatu wilayah.
Belanda sendiri dikenal sebagai negara maritim yang punya sejarah panjang soal pelayaran. Salah satu buktinya bisa dilihat dari kemeriahan Sail Amsterdam, sebuah ajang lima tahunan yang menyulap pelabuhan jadi panggung utama kapal layar dari seluruh dunia.
Pertama kali digelar tahun 1975, Sail Amsterdam awalnya merupakan bagian dari perayaan 700 tahun berdirinya kota Amsterdam. Namun, sambutannya yang luar biasa membuat ajang ini berlanjut dan jadi tradisi tetap yang digelar setiap lima tahun sekali.
Ciri khas dari Sail Amsterdam adalah parade kapal layar klasik dan modern yang memasuki Pelabuhan IJ. Kapal-kapal bersejarah, kapal angkatan laut, hingga kapal penumpang mewah, berlayar berdampingan di tengah antusiasme warga dan wisatawan. Tak heran jika setiap perhelatan Sail Amsterdam mampu menarik jutaan pengunjung dari berbagai negara.
Lebih dari sekadar pameran kapal, Sail Amsterdam juga menampilkan kekayaan budaya maritim. Area pelabuhan dipenuhi berbagai kegiatan edukatif, pertunjukan seni, dan festival kuliner. Semua itu dirancang untuk menghidupkan kembali semangat pelaut masa lampau, sekaligus memperkenalkan sejarah pelayaran pada generasi muda.
Event ini sempat tertunda akibat pandemi, namun dipastikan akan kembali digelar pada 2025. Dengan persiapan yang matang, penyelenggara menargetkan Sail Amsterdam kali ini akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.
Sail Amsterdam bukan hanya kebanggaan warga Belanda. Tapi juga jadi simbol bahwa sejarah bisa tetap hidup, selama ada semangat untuk melestarikannya. Di sinilah laut dan budaya bersatu, memberi pelajaran bahwa masa lalu bukan untuk dilupakan, tapi untuk dijaga dan dirayakan.
Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira