JP Radar Kediri - Proses seleksi nasional Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap 2 tahun 2025 kini hampir mencapai garis akhir.
Ribuan pelamar dari seluruh Indonesia, termasuk dari wilayah Kediri dan sekitarnya, saat ini menanti hasil seleksi yang dijadwalkan rampung paling lambat pada 31 Juli mendatang.
Namun, di tengah harapan besar menjadi ASN melalui jalur PPPK, kabar kurang menyenangkan datang bagi sebagian besar peserta.
Dari total lebih dari 860 ribu pelamar yang mengikuti proses seleksi, hanya tersedia sekitar 328 ribu formasi di 587 instansi pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Artinya, lebih dari 500 ribu pelamar dipastikan tidak akan lolos dalam seleksi tahap ini. Ketimpangan antara jumlah pelamar dan formasi inilah yang menjadi penyebab utama banyaknya peserta yang tereliminasi secara otomatis.
Baca Juga: Pintu ASN Terbuka Lebar! BKN Pastikan Peluang Besar untuk Honorer R2 & R3 di PPPK Tahap 2
Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Zudan Arif Fakrulloh, menyebutkan bahwa sebagian besar pelamar gagal bukan karena nilai ujian yang buruk, tetapi karena formasi yang mereka lamar tidak tersedia atau sudah terisi oleh pelamar dengan prioritas lebih tinggi, seperti guru honorer yang sudah lama mengabdi dan terdaftar dalam database BKN.
Pemerintah pun terus mendorong sistem seleksi yang transparan, berkeadilan, dan berbasis pada kebutuhan riil instansi.
Namun begitu, peluang belum sepenuhnya tertutup bagi mereka yang belum beruntung di seleksi utama.
Pemerintah memberikan opsi pengangkatan sebagai PPPK paruh waktu bagi pelamar yang tidak mendapatkan formasi penuh waktu, tentu dengan mempertimbangkan anggaran dan kebutuhan masing-masing instansi.
Meski jumlah peserta yang gugur sangat besar, BKN menegaskan bahwa proses seleksi tetap mengedepankan akuntabilitas dan merit system.
Oleh karena itu, pelamar diimbau untuk tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dari BKN maupun instansi terkait, serta mempersiapkan diri untuk kemungkinan rekrutmen berikutnya.
Bagi pelamar asal Kediri dan sekitarnya, situasi ini menjadi pembelajaran penting untuk lebih cermat dalam memilih formasi, serta terus meningkatkan kompetensi agar siap bersaing dalam seleksi ASN yang akan datang.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira