Namanya mudah diingat, semudah cara mengolahnya, seblak. Menjadi jajanan favorit yang menyodok posisi nasi goreng, bakso, maupun aneka mie pedas. Namun, ada realita berbahaya bila tak bisa menahan hasrat menyantap secara berlebihan.
Banyak yang menyebut makanan satu ini datang dari Jawa Barat. Bahan dasarnya mirip dengan krecek alias kerupuk yang masih setengah jadi. Cara makannya, kerupuk lembek tersebut disiram kuah. Bercampur bumbu campuran bawang putih, kencur, dan cabai rawit.
Tak hanya itu, ‘makanan rakyat’ inipun mengalami modifikasi. Ada ‘toping’ yang bercampur dengan bahan-bahan asli. Berupa sayuran, sosis, mi, daging ayam, hingga tempura. Varian ini membuat seblak kian menjadi idola penyuka kuliner jalanan.
Salah seorang penggila seblak adalah gadis bernama Dinda Permata. Mengaku mulai suka makanan ini sejak 2018.
Dia sampai rela berkelana dari warung seblak satu ke warung seblak lainnya. Sekarang, dia mengaku memiliki satu tempat favorit yang jadi tujuannya. Lokasinya di Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.
"Kalau saya sukanya lebih ke kuahnya yang pedas sih," akunya saat ditanya mengapa menyukai makanan seblak.
Sangking sukanya, Dinda bisa mengonsumsi satu porsi seblak dalam kurun waktu dua hari. Tapi itu dulu. Sekarang, dia sudah mengurangi intensitas memakan seblak.
Mengapa? "Sebelum kena sakit lambung bisa dua hari sekali. Tapi pas udah kena lambung palingan sekarang cuma satu minggu sekali atau dua kali," aku gadis yang pernah opname lantaran sakit lambung ini.
Tak hanya itu, Dinda juga mengaku terkadang perutnya perih sehabis makan seblak. Toh, itu tak membuatnya jera. Seblak tetap saja ada di daftar menu favoritnya.
"Tetap (konsumsi walau perih) ya kak. Soalnya sudah jadi makanan favorit. Tapi ya itu udah nggak sesering dulu," kilahnya.
Peringatan soal bahaya bila makan seblak berlebihan ini juga disuarakan ahli gizi. Sebab, kenikmatan makanan ini bisa memberi efek buruk di kemudian hari. Tentu saja bila tak terkontrol.
“Kalau makan sekali ya tidak apa-apa. Dua kali, juga tidak apa-apa. Tapi bila sudah jadi hobi makan, semacam ketagihan, nah itu yang berbahaya,” ingat Hessi Harisawati, dokter ahli gizi di RSUD Gambiran Kota Kediri.
Menurut dokter yang akrab disapa Hessi ini, seblak memiliki dampak kesehatan buruk dalam jangka panjang. Selain gangguan lambung yang datang dari cabai, kalori yang terkandung dalam isian seblak juga mengakibatkan obesitas.
Pedasnya seblak akan menyebabkan gangguan lambung. Gejalanya mual, mulas, hingga muntah. Dengan catatan, bila seseorang mengonsumsi secara intens.
"Cabai itu sebetulnya mengandung zat namanya capsaicin yang sebetulnya bagus bila dikonsumsi sesuai kebutuhan. Bisa meningkatkan metabolisme, juga menekan peradangan. Tapi kalau dia berlebih, bisa mengiritasi saluran cerna," jelasnya saat ditemui di tempat kerjanya.
Yang juga harus diwaspadai adalah kandungan isian seblak. Baik kerupuk lembek, mi, aci, cireng, dan lainnya berbahan dasar tepung. Artinya, ada kalori di isian makanan ini.
"Dan itu nanti (bila konsumsinya berlebihan) akan menjadi kelebihan kalori. Kalori bertambah banyak, kegemukan, disimpan sebagai lemak ya, obesitas, ya kan?" urainya, sambil menyebut satu porsi seblak bisa mengandung 300 sampai 500 kalori.
Padahal, bila terkena obesitas, akan menyebabkan penyakit jantung. Jika menyerang wanita bisa mengakibatkan permasalahan hormon. Seperti haid menjadi tidak teratur.
"Kalau sudah nggak teratur apa? Nanti ke dokter didiagnosa lain lagi ya, apa itu? Jadi (mengonsumsi makanan seperti itu) berbahaya untuk jangka waktu panjang," tekannya.
Belum lagi isian yang berupa makanan frozen, yang sudah diolah sedemikian rupa. Ada proses yang panjang mulai dari pemanasan, pengeringan, hingga pengemasan. Artinya, di dalam makanan frozen juga terdapat zat perasa, pewarna, penambah rasa, dan sebagainya.
"Makanan ditambah perasa tadi kan, perasa tadi, garam yang berlebihan, mungkin penyedap rasa. Kan supaya enak tuh. Nggak mungkinlah itu penjual-penjual cuman ngasih garam gitu ya. Banyak penguat rasanya. Tinggi garam ya tinggi natrium. Nah itu juga memicu hipertensi ya," jelasnya panjang lebar.
Karena itulah dia menekankan pentingnya memberikan pengetahuan kepada generasi muda. Dia berharap ada penyuluhan massif mengenai makanan yang sehat dan yang tidak. Bukan berarti tdak boleh mengonsumsi jajanan seperti seblak dan sejenisnya. Hanya saja, jangan sampai berlebihan.
Sebab, dia juga pernah menemui pasien yang mengalami gangguan lambung yang ternyata memiliki kebiasaan makan pedas.
"Penting untuk memberikan pengetahuan makanan yang sehat. Itu penting untuk anak-anak muda," pesannya.(emilia Susanti/fud)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira