JP Radar Kediri – Kasus keracunan MBG yang terjadi di tanah air kembali terulang dang mengakibatkan ratusan siswa di Sumatera Selatan harus mendapatkan perawatan sementara Sembilan orang dari korban masih harus menjalani perawatan di rumah sakit. Keracunan tersebut terjadi di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumater Selatan.
Sebanyak 173 siswa dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA dan SMK mengalami gejala keracunan seperti pusing, mual, hingga muntah-muntah setelah menyantap MBG. Kejadian tersebut berlangsung sejak Senin (5/5) sampai dengan Selasa (6/5) lalu.
Korban kerucnan MBG kebanyakan merupakan siswa dari jenjang Sekolah Dasar (SD). Hal tersebut diungkapkan oleh Kapala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, Dedy Irawan.
“Paling banyak siswa SD. Iya, yang kena dampak mulai dari PAUD sampai SMA,” ujar Dedy.
Kejadian yang menimpa sejumlah pelajar di PALI tersebut adalah sebuah musibah yang tidak diinginkan oleh siapapun termasuk Bupati PALI, Asgianto.
Asgianto menduga ratusan siswa yang mengalami keracunan tersebut karena adanya kelalaian dari pihak yang mengelola makanan sebelum akhirnya dibagikan kepada anak-anak. Tujuan dari program MBG sendiri adalah untuk memastikan setiap anak-anak sekolah mendapatkan kebutuhan gizi yang cukup.
Asgianto memberikan instruksi untuk diadaknnya Investigasi untuk mengungkap penyebab dari keracunan MBG yang akhirnya membuat sejumah siswa harus mengalami hal yang tidak mengenakkan.
Asgianto juga menegaskan, bahwa siapapun yang menjadi dalang dari penyebab dari keracunan tersebut harus mendapatkan sanksi tegas sesuai dengan aturan yang sudah berlaku.
Banyaknya kasus keracunan MBG yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia perlu mendapatkan tindak lanjut dari Pemerintah segera.
Pemerintah perlu melakukan peninjauan dan pengecekan kembali, serta memperketat pengawasan terhadap bahan pangan yang diolah serta prosedur memasak yang dilakukan di lokasi pengolahan makanan.
Sehingga kedepannya, kasus keracunan MBG di Indonesia semakin berkurang bahkan tidak akan terjadi lagi.
Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira