JP Radar Kediri– Menjelang peringatan Hari Raya Waisak 2025, ratusan biksu thudong dari berbagai negara memulai perjalanan panjang melintasi sejumlah wilayah di Indonesia.
Perjalanan spiritual yang penuh makna ini dimulai dari Provinsi Banten dan direncanakan akan berakhir di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, tepat saat perayaan puncak Waisak.
Sejak awal April lalu, para biksu telah tiba di Indonesia dan memulai tradisi thudong, yakni ritual berjalan kaki jarak jauh yang bertujuan melatih ketekunan, memperdalam spiritualitas, serta menumbuhkan kesabaran dan kekuatan batin.
Rombongan biksu ini akan menempuh jarak tak kurang dari 1.200 kilometer, melewati berbagai medan dan kondisi cuaca, sambil membawa pesan damai dan ajaran kebajikan kepada masyarakat.
Rute perjalanan mereka mencakup wilayah-wilayah padat seperti Tangerang, Jakarta, dan Bekasi, lalu dilanjutkan menuju Karawang, Purwakarta, Subang, Bandung, Garut, Ciamis, Banjar, dan Cilacap.
Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Magelang, tempat Candi Borobudur berada sebagai pusat perayaan Waisak nasional.
Panitia Nasional Waisak 2025 bersama komunitas Buddhis di berbagai daerah turut memberikan dukungan penuh terhadap kelancaran perjalanan ini.
Sejumlah posko peristirahatan telah disiapkan di sepanjang jalur thudong, lengkap dengan fasilitas sederhana untuk memastikan para biksu dapat beristirahat dengan layak.
Selain itu, aparat keamanan juga dikerahkan untuk menjaga keselamatan rombongan selama perjalanan.
Masyarakat di sepanjang jalur yang dilalui pun diajak untuk menyambut para biksu dengan penuh rasa hormat dan semangat persaudaraan.
Kehadiran mereka menjadi pemandangan yang langka sekaligus penuh makna, membangkitkan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan di tengah keberagaman bangsa.
Baca Juga: IKN dan Thailand Pererat Peluang Kolaborasi, Fokus Investasi Hijau
Puncak perjalanan akan berlangsung pada 19 Mei 2025, bertepatan dengan prosesi detik-detik Waisak di pelataran Candi Borobudur.
Selain rombongan biksu thudong, serangkaian acara keagamaan lain juga telah dipersiapkan untuk menyemarakkan perayaan suci umat Buddha tersebut.
Tradisi thudong bukan hanya menjadi ujian fisik dan mental bagi para biksu, tetapi juga menjadi bentuk nyata dari pengamalan ajaran Buddha tentang ketekunan, kedamaian, dan cinta kasih tanpa batas.
Kehadiran mereka di Indonesia tahun ini kembali mengingatkan kita semua tentang pentingnya hidup sederhana, menjaga harmoni, serta menumbuhkan rasa welas asih kepada sesama makhluk hidup.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira