JP Radar Kediri – Ketua Umum Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Moeldoko, mengungkapkan tak hanya BYD saja yang diganggu ormas, pabrik VinFast di Subang juga turut diganggu ormas.
“Saya pernah mendapat laporan, seperti VinFast juga pernah melaporkan ada gangguan-gangguan, namun saya sudah bantu untuk komunikasikan ke wilayah setempat,” ujarnya, Rabu (23/4).
Laporan tersebut muncul setelah laporan pembangunan pabrik Mobil BYD yang diganggu oleh sekelompok ormas.
Moeldoko mengatakan bahwa masyarakat Indonesia juga perlu turut andil menciptakan iklim investasi yang baik, menyesuaikan dengan situasi iklim investasi dunia.
Pembangunan pabrik mobil ini diharapkan akan meberikan peluang dan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia. Jika premanisme ini terus terjadi ditakutkan para investor akan menarik kembali investasinya dan pengangguran akan semakin banyak.
“Saya mendukung apa yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat, tumpas saja itu,” ujar Moeldoko.
Diketahui produsen kendaraan listrik asl Vietnam ini telah membeli lahan tanah seluas 120 hektare di Subang, Jawa Barat untuk diajdikan pusat produksi kendaraan listrik di Indonesia
VinFast menetapkan target awal investasi senilai USD 200 juta atau setara dengan Rp3,2 triliun.
Kapasitas pabrik VinFast mencapai 50 ribu unit per tahun dengan target penyerapan tenaga kerja sebanyak 1.000 hingga 3.000 orang.
“Kita perlu peluang untuk bekerja, ada orang datang memberikan peluang tapi diganggu sama yang lain, ini tidak benar ini,” kata Moeldoko.
Sebelumnya Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mendapat laporan pembangunan pabrik BYD di tempat yang sama yaitu di Subang telah diganggu sekelompok ormas.
Eddy meminta agar pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap masalah ini karena dapat merugikan berbagai pihak yang bersangkutan.
Untuk mengatasi hal ini pemerintah berencana akan akan mengerahkan Satgas (Satuan Tugas) Premanisme jika kasus ini terbukti benar adanya.
Penulis: Rozita Nur Azizah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira