Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Terinspirasi dari Serial Drama Walid, Santriwati di Lombok Laporkan Pimpinan Ponpes ke Polisi karena Dapat Perlakuan Menyimpang

Ilmidza Amalia Nadzira • Selasa, 22 April 2025 | 20:54 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri - Sebuah serial drama asal Malaysia rupanya menjadi pemicu keberanian sekelompok santriwati di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk angkat bicara soal peristiwa kelam yang mereka alami di masa lalu.

Mereka melaporkan seorang oknum pimpinan yayasan pondok pesantren (ponpes) berinisial AF ke polisi, atas dugaan kekerasan seksual yang terjadi bertahun-tahun lamanya.

Laporan tersebut bermula usai para santriwati menonton serial drama berjudul Bidah, yang menampilkan karakter fiktif bernama Walid Muhammad Mahdi Ilman.

Dalam cerita, Walid digambarkan sebagai pemimpin sekte sesat yang mengaku sebagai Imam Mahdi. Dengan dalih agama, tokoh tersebut memperdaya para pengikutnya, termasuk menyetubuhi santrinya atas nama penyucian.

Baca Juga: Sosok Walid dalam Film Bidaah yang Viral di Media Sosial, Intip Akun Instagramnya

Cerita fiksi itu ternyata membangkitkan ingatan kelam para santriwati yang kini telah menjadi alumni ponpes.

Mereka merasa ada kemiripan mencolok antara jalan cerita serial tersebut dengan pengalaman pribadi mereka selama nyantri di ponpes tempat AF menjabat sebagai pimpinan yayasan.

"Setelah menonton film itu, mereka baru merasa tidak sendiri, bahwa yang mereka alami juga salah, dan itulah yang membuat mereka berani speak up," ujar Joko Jumadi, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram sekaligus perwakilan Koalisi Stop Kekerasan Seksual NTB, Senin (21/4/2025).

Joko mengungkapkan, dugaan kekerasan seksual itu telah terjadi sejak tahun 2016 hingga 2023. Hingga kini, sedikitnya ada 20 santriwati yang mengaku menjadi korban.

Namun baru tujuh di antaranya yang telah resmi melapor dan memberikan keterangan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Mataram.

Baca Juga: Sinopsis Film Bidaah, Peran Walid dalam Sekte Sesat Berbalut Agama

Menurut penuturan para korban, AF menggunakan pendekatan spiritual untuk meyakinkan para santriwati.

Ia berdalih bahwa dirinya mampu “menyucikan rahim” dan menjanjikan bahwa kelak para korban akan melahirkan anak-anak pilihan, bahkan disebut-sebut akan menjadi wali Allah. Aksi bejat itu sebagian dilakukan di sebuah ruangan khusus pada malam hari.

“Korban ada yang disetubuhi, ada juga yang dicabuli. Yang dicabuli biasanya menolak saat akan disetubuhi,” terang Joko.

Menariknya, pihak pondok pesantren disebut bersikap cukup kooperatif setelah menerima laporan tersebut.

Mereka langsung melakukan klarifikasi kepada para korban dan secara resmi memberhentikan AF dari jabatannya sebagai ketua yayasan.

Baca Juga: Sebelum Bidaah, Ternyata Ada Drama Korea yang Mengangkat Sekte Sesat Keagamaan Loh

"Ponpes cukup tanggap. Setelah mendengar kabar ini, pihak ponpes langsung melakukan klarifikasi dan memutuskan untuk memberhentikan yang bersangkutan," ujar Joko.

Saat ini, pihak kepolisian telah memeriksa beberapa saksi korban dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Di sisi lain, LPA dan Koalisi Stop Kekerasan Seksual NTB tengah fokus pada pemulihan kondisi psikologis para santriwati yang menjadi korban.

Kasus ini kembali membuka mata banyak pihak bahwa kekerasan seksual dengan dalih spiritual masih menjadi ancaman nyata di lingkungan tertutup seperti lembaga pendidikan keagamaan.

Semoga penanganan kasus ini dapat menjadi titik balik dalam mendorong perlindungan lebih kuat terhadap para santri dan santriwati di seluruh Indonesia.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#walid Bidaah #radar kediri #Serial bidaah viral di indonesia #ntb #serial bidaah #santriwati