JP Radar Kediri- Di masa lampau Pulau Jawa memiliki sebuah tradisi yang unik sekaligus kontroversial yaitu rampogan macan. Pertunjukan ini memperlihatkan pertarungan antara manusia atau hewan lain melawan seekor harimau di tengah arena disaksikan oleh ratusan bahkan ribuan penonton.
Bagi masyarakat zaman itu, rampogan macan bukan hanya hiburan tapi juga simbol kekuasaan dan spiritualitas. Kini tradisi tersebut telah hilang meninggalkan jejak sejarah yang menggugah banyak pertanyaan tentang hubungan manusia dengan alam liar.
Istilah rampogan berasal dari bahasa Jawa yang berarti "serbuan" atau "penyerangan", sedangkan macan berarti harimau. Tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak masa kerajaan-kerajaan Jawa seperti Mataram Islam, dan berlanjut hingga masa kolonial Hindia Belanda pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Dalam praktiknya, seekor harimau akan dilepaskan ke tengah arena lalu sekelompok prajurit bersenjata tombak akan mengepung dan menyerangnya. Kadang-kadang harimau juga diadu dengan kerbau atau anjing pemburu. Penonton dari berbagai lapisan masyarakat berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan berdarah ini yang sering kali berakhir dengan kematian sang harimau.
Baca Juga: Mengenal Keluarga Kucing Besar di Dunia, Dari Harimau hingga Cheetah yang Terancam Punah
Rampogan macan memiliki banyak lapisan makna. Bagi para bangsawan acara ini menjadi simbol kekuasaan dan dominasi manusia atas alam liar. Harimau sebagai predator puncak dan simbol keganasan dijinakkan atau lebih tepatnya dihabisi di depan umum sebagai bentuk pernyataan bahwa kerajaan mampu menaklukkan kekuatan liar. Di sisi lain rampogan juga dianggap sebagai bentuk ritual tolak bala. Dengan mengorbankan hewan buas masyarakat percaya bahwa malapetaka atau wabah bisa dihindarkan. Tradisi ini pun sering diadakan menjelang panen raya atau peristiwa penting kenegaraan.
Saat Belanda mulai menguasai Nusantara rampogan macan justru menjadi tontonan yang dikomersialkan. Harimau didatangkan dari berbagai wilayah di luar Jawa seperti Sumatra dan Kalimantan. Bahkan acara ini sering disisipkan dalam perayaan besar seperti ulang tahun raja atau peringatan kolonial. Meski sempat popular kritik terhadap kekejaman dan kekerasan dalam rampogan mulai bermunculan pada awal abad ke-20. Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan hak hewan, tekanan dari kelompok intelektual, dan perubahan nilai sosial tradisi ini perlahan-lahan dihapuskan.
Rampogan macan secara resmi dihentikan pada era kolonial akhir, sekitar tahun 1920-an. Kini, ia hanya hidup dalam catatan sejarah, lukisan-lukisan kuno, dan cerita rakyat. Namun warisan budaya ini tetap menjadi bahan kajian menarik bagi sejarawan dan antropolog. Ia menjadi gambaran bagaimana manusia memaknai kekuasaan, keberanian, dan relasi dengan alam liar di masa lalu sebuah potret sejarah yang rumit, penuh simbol, dan tidak lepas dari kontroversi.
Editor : Puspitorini Dian Hartanti