JP Radar Kediri - Setiap usai Lebaran, Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, berubah menjadi panggung sakral. Di tengah denting gamelan dan asap dupa yang membumbung, satu tarian kuno kembali dimainkan: Seblang. Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan budaya, tapi ritual warisan leluhur yang sarat makna spiritual dan historis.
Warisan Kerajaan Blambangan
Tradisi Seblang dipercaya berasal dari masa Kerajaan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa yang bertahan hingga abad ke-18. Saat itu, Seblang dijalankan sebagai bentuk tolak bala dan bersih desa—agar rakyat terhindar dari pagebluk dan malapetaka.
Beberapa sumber menyebut Seblang sebagai bentuk transformasi dari ritual Hindu-Buddha ke budaya lokal yang tetap bertahan meski zaman berganti. Bahkan setelah Islam masuk ke wilayah Osing, Seblang tidak hilang—melainkan diadaptasi dan disakralkan dalam bentuk yang masih dipertahankan hingga hari ini.
Trance, Pilihan Leluhur, dan Penari Terpilih
Berbeda dari tarian biasa, Seblang tidak bisa dibawakan oleh sembarang orang. Penarinya harus dipilih oleh "leluhur", biasanya melalui mimpi atau petunjuk spiritual. Penari juga harus perempuan, belum menikah, dan berasal dari keturunan keluarga penari Seblang sebelumnya.
Di Desa Olehsari, penari akan menari selama tujuh hari berturut-turut, dalam kondisi trance. Gerakan tubuhnya dikendalikan oleh kekuatan gaib, yang diyakini sebagai arwah para leluhur. Tidak ada koreografi modern—semuanya mengalir alami sesuai iringan gamelan dan perintah sang pawang.
Simbol Keselarasan dan Pembersihan Batin
Seblang bukan sekadar ritual budaya. Ia adalah bagian dari keyakinan masyarakat Osing terhadap keselarasan alam, manusia, dan leluhur. Dalam praktiknya, Seblang menjadi semacam “pembersih batin” untuk desa. Selama tujuh hari itu, warga melakukan berbagai prosesi, termasuk ngunjuk tirta (mengambil air suci), kenduren (syukuran), hingga kirab keliling desa.
Jika Seblang tidak dilakukan, masyarakat percaya desa akan rawan terkena musibah—mulai dari gagal panen hingga wabah penyakit.
Baca Juga: Mirip Tayuban, Tari Emprak Kisahkan Para Sinden yang Menghibur di Pasar Rakyat
Tak Pernah Absen, Meski Zaman Berubah
Hebatnya, Seblang Olehsari tak pernah absen digelar—bahkan saat pandemi Covid-19. Tradisi ini tetap berlangsung meski secara tertutup, menunjukkan bahwa adat dan keyakinan masyarakat Osing tak mudah goyah oleh zaman.
Kini, dengan bantuan media sosial, Seblang mulai dikenal lebih luas. Tapi bagi warga Olehsari, esensinya tetap satu: menjaga warisan leluhur dan menyatu dengan semesta.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira