Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Sejarah dan Bagaimana Mudik Bisa Menjadi Tradisi di Indonesia

Ilmidza Amalia Nadzira • Rabu, 5 Maret 2025 | 09:30 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri- Saat menjelang lebaran, sebagian masyarakat Indonesia yang merantau akan memilih menghabiskan waktu lebaran dengan berkumpul bersama keluarga di Kampung Halaman.

Tradisi Mudik menjadi salah satu agenda wajib masyarakat dikala lebaran tiba. Mudik biasanya ditandai dengan kehadiran sanak saudara yang pulang ke kampung halamannya masing-masing.

Hal tersebut biasanya dilakukan oleh mereka yang bekerja di kota-kota besar.

Tradisi mudik memiliki sejarah yang cukup menarik. Tradisi mudik di masyarakat terjadi setelah Indonesia memperoleh kemerdekaannya tepatnya pada tahun 50-an.  

Jakarta yang kala itu sudah menjadi ibukota negara menjadi pusat dari fenomena mudik ini.

Istilah mudik pertama kali digunakan sebuah kata dalam ruang publik pada tahun 1983.

Sebelum adanya istilah tersebut masyarakat menggunakan berbagai istilah untuk kegiatan mudik ini seperti “pulang ke kampung halaman, “bersilahturahmi dengan keluarga besar”.

Setelah Jakarta dijadikan ibukota negara pasca Agresi militer Belanda ke-2, masyarakat mulai berbondong-bondong datang ke Jakarta demi mengadu nasib.

Berdasarkan statistik kependudukan tahun 1948-1949, jumlah penduduk Jakarta yang tadinya 800.000 jiwa setelah tahun 1950-an naik drastis menjadi 1,4 jiwa.

Para pendatang itu berasal dari berbagai wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Alasan para pendatang datang ke Jakarta karena pemerintah Indonesia pada tahun-tahun tersebut lebih memfokuskan dana pembangunan di Jakarta. 

seperti dibangunnya jalan raya, fasilitas-fasilitas umum, gedung-gedung banyak dibangun sehingga Jakarta sangat cocok untuk perkembangan ekonomi.

Para pendatang yang pergi ke Jakarta merupakan orang-orang terdidik, yamg mendapatkan pendidikan baik di kampungnya.

Sementara sebagian adalah para pekerja kasar, seperti buruh bangunan, tukang kayu, tukang becak, pedangan kecil dll.

Setelah para pendatang beberapa tahun tinggal di Jakarta, para pendatang tentu saja memiliki kerinduan terhadap kampung halamannya.

Mereka yang sudah bekerja dan memperoleh penghasilan di kota, berharap bisa menggunakan uangnya di Kampungnya. Dari sinilah muncul istilah mudik.

Setelah menjadi fenomena, pemerintah kala itu memberikan perhatian serius terhadap kegiatan mudik ini. Pada tahun 1960-an pemerintah menghidupkan kembali jalur kereta api pada masa kolonial di seluruh wilayah.

Selain menghidupkan kembali jalur-jalur kereta api, pemerintah kala itu juga menyediakan bus-bus yang memadai bagi masyarakat yang ingin mudik.

Memasuki tahun 1980-an, semakin banyak pilihan kendaraan yang digunakan masyarakat untuk mudik.

Selain tersedia kereta api dan bus transportasi udara dengan mengandalkan pesawat terbang sudah mulai dilakukan, daerah-daerah yang jauh semakin mudah dijangkau.

Penulis: Yulita Dyah Kusumasari 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#pulang kampung #idulfitri #mudik #lebaran #tradisi