“Ayo semangat...semangat...semangat...harus ditingkatkan lagi,” teriak pria berbaju merah kepada belasan atlet atletik di Stadion Brawijaya Kamis sore (11/5). Sosok itu adalah Edy Jakariya. Pelatih atletik Komite Olahraga Nasional (KONI) Kota Kediri.
Sore itu, sekitar pukul 16.00, Edy tengah melatih belasan atlet atletik. Sebagai persiapan menjelang bergulirnya Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2023.
Sembari berteriak menyemangati para atlet, Edy mondar-mandir. Tatapannya tajam ke arah para atlet yang sedang melakukan sit up. Jika ada yang gerakan sit up-nya salah, Edy akan langsung menghampiri.
Tapi teriakan yang awalnya garang berubah menjadi perkataan lembut. Dengan hati-hati, Edy mengarahkan atlet tersebut agar posisinya kembali benar.
“Begini yang benar. Jangan diubah lagi,” ujarnya lembut.
Edy tergolong baru menjadi pelatih bagi atlet atletik Kota Kediri. Dia mengingat-ingat sejenak. Kemudian menyebut jika dirinya baru menjadi pelatih pada 2018.
Sebelumnya, Edy adalah seorang atlet atletik juga. “Dulunya saya mahir di lari gawang 100 meter,” terangnya.
Sebagai atlet, pengalaman Edy segudang. Demikian pula halnya dengan prestasi. Tidak hanya berskala nasional namun internasional. Edy, yang berkecimpung sebagai atlet sejak usia sekolah, pernah menjadi atlet atletik yang berlomba di Olimpiade 2004 Yunani.
Sayangnya, saat itu Edy tak mendapat nomor saat berlomba di nomor spesialisasinya, lari gawang 100 meter. Namun, Edy tetap mampu mencatatkan hasil yang maksimal. Memecahkan rekor nasional.
Selain pernah berlaga di Olimpiade, Edy juga tercatat beberapa kali mengikuti SEA Games. Pria yang kini berusia 40 tahun itu sudah bermain di SEA Games sebanyak tiga kali. Dengan catatan satu kali mendapat piala perunggu. “Dapat perunggu waktu di Vietnam. Sedangkan dua lainnya hanya di posisi emat,” tambahnya.
Bagaimana dengan Pekan Olahraga Nasional (PON)? Sembari tertawa kecil, Edy menyebut jika dirinya sudah tampil empat kali di ajang empat tahunan itu. Selama itudirinya sudah mengantongi tiga emas. Yaitu pada 2004, 2008, dan 2012. Sedangkan di 2016, Edy harus puas hanya mendapat medali perunggu. “Saya bangga bisa hattrick emas di PON,” sambungnya.
Pada 2016, ketika Edy mendapat piala perunggu, dia sadar jika masanya sudah habis. Alhasil dua tahun kemudian, pria yang kini bertempat tinggal di Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo memilih untuk menjadi pelatih. Menurutnya, eman-eman ketika ilmunya tidak ditularkan ke juniornya. Alhasil hingga saat ini Edy masih terus menjadi pelatih.
“Orang yang tidak mau membagi-bagikan ilmu itu orang sombong,” terangnya.
Bagus ketika menjadi pemain tidak secara otomatis membuat pemain itu jago melatih. Namun tidak untuk Edy. Karena sebagai pelatih, dirinya juga dianggap jago. Karena di Porprov 2022 lalu, tim atletik KONI Kota Kediri mampu menyabet 12 medali emas. “Semoga di tahun ini jumlah emas yang didapat tim atletik bisa lebih banyak lagi,” tutupnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah