Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Anak Lanang  

adi nugroho • Jumat, 28 Februari 2020 - 00:56 WIB
anak-lanang
anak-lanang


Anak lanang. Ada kalanya adalah kebahagiaan bagi orang tuanya. Ada kalanya pula kekhawatiran. Seperti saat Fir’aun (Ramses II, ada pula yang menyebut Ramses III) berkuasa di Mesir pada 1300-1200-an Sebelum Masehi. Karena itu pula, bayi Musa sampai dihanyutkan ke sungai oleh sang bunda. Agar tak ketahuan Fir’aun yang haus kuasa.


Tapi, sekuasa-kuasanya manusia dan makhluk apa pun di dunia, tetap saja Tuhan yang Mahakuasa. Bayi Musa yang dibuang agar tak ketahuan Fir’aun malah ditemukan istrinya dan dirawat di istana. Jadi anak angkat. Yang kelak meruntuhkan kekuasaannya.


Anak lanang. Ada kalanya juga kegundahan. Seperti yang dituangkan oleh Gesang dalam lirik ‘Caping Gunung’. Yang bikin selalu ‘kelingan’. Terutama di kala ‘jaman berjuang’. Karena anak lanang yang ‘mbiyen diopeni’ kini tidak diketahui di mana rimbanya.


Padahal, konon, si anak lanang sudah mencapai kemenangan. Keturutan sing digadhang. Tercapai apa yang diinginkan. Meski dulu sempat ‘ninggal janji’ walau sekarang mungkin sudah dilupakan.


Itulah yang selalu jadi pikiran. Dari yang merindukan dan selalu ‘kelingan’. Betapa jika dolan ke gunung selalu dicadhongi sego jagung. Kalau hujan juga dipinjami caping gunung. Semua dilakukan karena naluri melindungi. Hasrat untuk ngopeni.


“Lek saiki ketemu, mesti tak cadhongi sego tumpang, Mbul,” kata Mbok Dadap membayangkan si anak lanang yang hilang. “Merga aku ora nduwe sego jagung.”


“Tapi sego jagung campur tumpang panggah cocok lo, Mbok,” sahut Dulgembul yang karena tak punya jas hujan dan caping gunung jadi basah kuyup kehujanan.


Anak lanang. Ada kalanya juga kehebohan. Seperti terjadi dalam jagad perpolitikan di tlatah peninggalan Bagawanta Bhari hari-hari ini. Anak lanang yang munculnya belakangan. Dari petinggi kekuasaan. Yang mengacaukan strategi dan taktik dari para petarung kekuasaan di tingkat bawah. Yang berharap mendapat rekomendasi dari tingkat atas.


Tapi untungnya, di jagad politik, kehebohan adalah hal yang sangat biasa. Apalagi bagi para pemainnya. Dan memang harus demikian. Tidak boleh dibawa sampai ke dalam hati. Karena hal itu akan semakin mengacaukan, bahkan memacetkan strategi dan taktik lanjutan. Untuk meraih kekuasaan.


“Jangan lupa, politik adalah soal siapa mendapat apa, kapan, dan dengan cara bagaimana,” kata Kang Noyo mengutip pendapat Harold Dwight Laswell, ilmuwan politik dan komunikasi Yale University, Amerika itu.


Ya, mendapat apa? Itu poinnya. Jadi, harus dapat. Jangan sampai tidak dapat apa-apa. So, para pemain politik harus sangat lentur. Tidak mutungan. Begitu tidak dapat di plan 1, ya sudah. Mandeg. “Itu bukan politikus,” lanjut Kang Noyo. “Politikus punya 1.001 cara untuk bisa mendapatkan apa-apa.”


Jadi, harus punya 1.001 planning juga. Tidak berhasil di plan 1, masih punya plan 2 dan 1.000 plan lainnya. Tidak berhasil di plan 1 dan 2, masih punya plan 3 dan 999 plan lainnya. Begitu seterusnya.


Cuma, perlu diingat pula. Seheboh apa pun fenomena kemunculan si anak lanang. Sebanyak apa pun rencana strategi dan taktik yang disiapkan. Mestinya, ada satu yang tak boleh dilupakan. Yaitu harapan. Dari wong-wong nggunung. Wong-wong ndesa.


Seperti bait terakhir Caping Gunung yang dianggit Gesang dan dipopulerkan banyak penyanyi seperti Waldjinah, Manthous, lalu juga Didi Kempot itu.


“Sukur bisa nyawang…”


“Gunung desa dadi reja…”


“Bene ora ilang…”


“Nggone padha lara lapa...”


(tauhid wijaya)

Editor : adi nugroho
#politik